Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Monday, November 16, 2009
Aku sakit, jiwa dan raga
Jasmani membuatku merintih
Merasakan sebuah derita yang kucipta
Derita yang ku cipta dari sebuah rohani

Sakit dan penyakit yang sulit tuk diobati
Ternyata sulit tuk melakukan jihad
Lebih mudah berjihad mempertaruhkan kepala
Sulitnya jihad menghindari pintu neraka

Hancur ragaku, remuk jiwaku
Engkau memberikan samunan kebahagiaan
Sebagai musuh besarku. Musuh yang ada
Musuh yang mampu mengantarkan ke dua jalan
Surga atau neraka

Kau memberikan akal pikir
Agar mampu bertempur dalam sebuah game
Kau memberikan keinginan
Menjadikan ku lakon hidup atau mati

Hidup dalam dien
Kepercayaan telah menghancurkan musuh
Kepercayaan menyamunkan kemenangan sebagai kekalahan siksa
Dua pilihan hidup. Dalam ketentraman dengan musuh yang terlelap
Hidup bersamanya berjalan terus menuju kenikmatan dunia
Serta menghancurkan jiwa dan raga di dunia maupun di neraka

Mati dalam kepenasarannya
Belum mencoba langgaran norma
Maupun mati tertawa karna musuh
Mengantarkan aku ke surga

Diriku sekarang masih di tengah jalan
Jalan kemunafikan menuju neraka
Jalan kedurhakaan berjuang dengan musuh
Tanpa kepercayaan, tanpa kemenangan yang nyata

Waktu berjalan aku yakin, aku sesali
Waktu terus berjalan dan suatu ketika
Tembok baja menghalangi penyesalan
Akal pikir serta dien




Itulah musuhku
Menghancurkan tembok baja
Ketika waktu berjalan
Menghilangkannya jauh dalam kehidupan

Aku tanpa musuh fisik saat ini
Lebih sulit berjuang tuk bertalu – talu
Menderita kala waktu datatedfgng, bahagia
Setelah hilang sesal serta akal pikir hidup lagi

Aku harus mampu berjihad
Melawanmu saat ini
Tuk mencoba memenangkan permainanmu YA ALLAH
Agar aku mampu menjadi permainan terbaikMu


Ketika tembok baja tak menutup akal pikirku. Serta penyesalan masih hidup dalam diriku .Yogyakarta,14 September 2004

Merah putih

Aku hidup di bawah gagahnya kibaranmu
Ratapi tangis karna hilangnya perkasamu
Dihina, ternoda oleh kedurhakaan anakmu
Diinjak – injak tanpa rasa hormat

Jerit tangis teringat akan kehormatan
Hilang remuk tanpa bentuk
Layu tersayat – sayat zaman
Renta tanpa tongkat penyangga

Kau berdiri gagah, saat itu
Banyak penopang setia sebagai tonggak
Melindungimu dari hujatan bangsa lain
Membantu berjuang tuk kegagahanmu

Kini sedikit sekali penyanggamu
Yang membantumu berdiri tanpa pamrih
Yang melindungi kegagahanmu untuk bangsa
Tapi kini layaknya kuli
Bekerja dengan pamrih
Lain dulu, demi jiwa raga mereka menyangga

Merah putih. Kapan kau tunjukan keperkasaanmu kembali?
Apakah harus menunggu bersatunya penyanggamu
Merah putih. Kapankah kau tunjukan bahwa kau dapat berdiri tegak
Agar ku mampu berdiri bangga berteriak
Aku bangga menjadi pertiwimu. Merdeka karnamu

Merdeka dari jiwa hina
Merdeka dari tanyangan zina
Merdeka dari ratapan tangis saudaraku
Merdeka dari pasungan negara lain

Indonesia.
Kau bukan sandal yang pantas untuk di injak – injak
Indonesia.
Kau bukan kuda yang enak di kendalikan
Indonesia.
Kau bukan keledai yang di bodohi dengan mudah
Indonesia.
Kau bebas tidak terpasung oleh negara lain
Indoneisa. Indonesia.


Realita saat ini,hari ini
Aku meratap melihat nya
Kenapa?apakah ini nyata
Hanya dalam televisi aku melihatnya
Tapi semua itu apakah nyata?
Suara ledakan sebagai lagu favorit di radio
Kepala terpisah adalah hal unik dalam televisi
Rentetan pistol sebagai actifitas orang berkuasa
Korupsi sebagai mata pencaharian
Rutinitas adalah melihat keindahan rendahnya derajat Kaum hawa
Tangis anak ayam merupakan peliharaan Mu

Kapan berakhir, ku nanti jawabnya
Laskar ampuh kini siap menerkam
Kayu penyangga dapat jatuh tiap saat karna rapuh
Tanpa dien penyangga
Yang jadikan ketenangan sebagai kehidupan
Ketentraman sebagai surga dunia
Agama sebagai kebanggaanmu
Persatuan dan kesatuan penyanggamu
Berkibarlah dengan gagah. Berkibarlah
Merah putihku janganlah kau layu

28 September 2004, ketika kau berkibar saat hanya tertiup angin, tanpa makna. Dan ketika kau telah tua, tidak semakin gagah. Kau lusuh tanpa perawat, compang tanpa penyangga serta camping tanpa pemilik.

Telah lama tangan tak bermain dengan pensil
Ataupun bersendagurau dengan meja komputer
Bukan lain karna malas
Tapi tak punya akal
Entah kenapa ingin ku paste perasaan
Menjadi visualisasi

Aku aku aku. JATI DIRI
Cinta, tak tahulah cinta
Ingin ku gapai samunan
Tapi,
Takut menyesal sayang

Aku bisa mencintai orang
Yang ia cinta aku
Sebuah karya yang tak seperti dewasa
Cengeng di mata, tertawa kau saat baca

Suasana hati tak mampu menjadi terbaik
Inilah hidupku
Acak – acak tak mampu dipahami
Layaknya puisi kalbu
Yogyakarta, 12 januari 2005

Kurangkaikan kata – kata tanpa melupakan perasaan
Kugoreskan pena tidak pula dengan meluapkannya
Perasaan ini mengalir tulus membuahkan kata – kata yang mampu menciptakan rekahan senyum
Tersenyumlah karena pencarannya menjadikan waktu ikut tertawa dan berbisik “ kebahagianmu adalah kedewasaan dariku”
Dan di kala waktu selalu bersama kebahagianmu, kau tidak lagi hidup saat waktu”galau”tercipta ataupun “pertengkaran, benci, ingin memiliki, ketidakhirauan”berlangsung. Saat ini kau hidup dalam kelemahlembutan yang membawakan sifat kewanitaan, kau hidup dalam kesabaran yang menjadikan sebuah kedewasaan, kau hidup dalam ketegasan yang mampu membuatmu lebih bijaksana serta dengan langkah senyummu mampu ciptakan kharisma pancaran wajah.


Bunga mawarku,
Akankah kau layu dalam waktu
Keindahanmu seakan tertutup mahkota
Kecantikanmu tiadalah berarti buaian merah
Garis – garis nadi kehidupan bentuk wajahmu
Laksana abadi tiada bergugur
Keindahanmu penuhi iman
Bersangkar kehidupan ranum
Harum semerbak saat ku sentuh
Berharap kau tiada layu
Oleh waktu, sakit, siang, dan malam

Mawarku, buah cinta ini
Tulus kasih hati
Medan, 18 september 05

Andy eko wibowo
Aku terharu merasakan sayang
Aku terkenang merasakan cinta
Sebuah persahabatan
Tentram temukan dalam nurani
Dalam ketenangan hati
Smoga kokoh dan berarti

Cerah warna kehidupan tercipta
Pukulan palu dalam konseptorNya
Persahabatan, nyata dan berbekas

Dalam waktu perjalanan tiap rasa berasa
Dalam iringan usia mampu membuka celah
Bahasa hati motivasi persahabatan
Bahasa jiwa dalam motivasi rohani
Bahasa pribadi di dalam diri

Dalam hidup ini, dalam suatu waktu
5 juni 2005
untuk Indah, Arum, Ikan, Tami, Inung, Irma, Fitri
terima kasih lembaran kehidupan barunya ya
akan ku isi dengan yang indah – indah saja
derai bersinar terang, bintang kanlah redup
supernova yang hilang
kematian pasti menghujung dalam motivasi
dengan kalian,
mentari pagi menyambut pagi
aku kan bangkit berjaya karena sinar kalian

Dapatkah ku merasakan keharumanMu
Menjadikan sebuah nada – nada nafas penentram hati
Tunjuk pada keajaiban sepanjang masa
Makna bab kata dari mu’jizat

Dapatkah keharumanMu menentramkan hatiku
Menyelimuti dan menidurkan sebuah kebathilan
Merasakan keindahan dari sebuah keabadian
Nada deru kemerduan tak ingin kulepaskan
Menjadikan keinginan tuk dekat dengan penciptaMu

Dapatkah keharumanMu memaniskan kharismaku
Hanya satu maksud, mencari cintaNya tanpa menceraikan
Tanpa membuatnya cemburu karna ku mendua
Tak inginlah aku mendua, orang terhina mendua

Ingin tetap kau ada dalam jantungku
Dalam satu purnama, dua belas, hingga aku hilang tertelan
Mengatur hidupku
Mulai saat ini kau harus menjadi istriku
Penentram hati, pengingat diri, serta penerang jalan
Agar aku tak tersesat sayang

Waktuku milik penciptaMu
Jiwaku! Sama saja
Bahtera hidup kuarungi untuk mendapat mahligai cinta
Berikanlah keharuman serta keindahan tuk bercinta dengan iman
Kan ku tukar dengan kharisma sebagai sesaji penciptaMu

Dapatkah keharumanmu membawaku mencium surga
Memberikan kunci pintu neraka untuk di tutup
Merasakan kenikmatan yang akan kugapai
Berilah rasa agar ku slalu ingat
Berilah karsa sehingga aku tahu
Berilah hamba nurani tuk melihat
Sebuah realita di kehidupan surga ataupun neraka

Ketika bermimpi tentang keabadian di akhir zaman.dan saat syeitan terbelenggu karena sebuah Ramadhan Yogyakarta, 19 oktober 2004.


Bagi terbangnya burung – burung
Bagi gemericiknya air lembah
Bagi betebarnya biji – biji semai
Bagi bumi yang mengelilingi matahari

Kala senja itu bermain dalam waktu
Kala magrib memangku kembali siang
Dan dikala deru asab pulang ke asal

Aku termangu menunggu bintang – bintang
Aku termangu menemani angin dingin
Aku termangu melihat garis tipis cakrawala
Menggenggam waktu saat itu

Senja yang merindu
Aku tersendu karenanya
Mengingat deburan kedamaian ombak
Seakan – akan mengajakku berperang
Mengingat desiran angin
Seakan – akan membisikan amarah
Mengingat kegelapan yang merasuki bumi saat ini
Tiada yang menebarkan terang

Demi terbangnya burung ke peristirahatan
Demi aliran deras di halauan pantai
Demi tumbuhnya tunas – tunas
Dan demi bumi yang gelap gulita

Yogyakarta, 10 november 2005
Menabur peluh lara kecewa dalam hati

Bunga ku

Banyak kini bunga di tepi jalan
Yang telah layu terenggut oleh kumbang
Kumbang – kumbang tanpa iman
Jahanam.

Banyak kini bunga yang layu di tengah jalan
Terinjak injak tanpa keindahan
Salah siapa ia sombong akan keindahan
Keindahan yang ia miliki

Banyak bunga yang tidak segar lagi
Karena tak bisa menyembunyikan kesegarannya
Sehingga dengan mudah kumbah mencuri
Mencuri madu yang selama ini ia lindungi

Kenapa . kenapa kalian mengulang kesalahan
Kesalahan yang di alami oleh pendahulumu
Bukankah derajatmu tinggi, bunga cantikku

Kenapa kau merendahkan derajat hanya demi kesombongan
Menjadi layu kini, kau tak akan kembali cantik
Tak mau satu orangpun menghirupmu
Menjadi ternoda kini, tak mau satu orang pun melihatmu.
Aku pun jijik mawar
Sekian lama kumbang ingin mencuri madumu
Dan kini ia telah kenyang dengan madu curianmu
Menagislah meratapi kekalahanmu serta hilangnya
Hal yang selama ini kau banggakan
“KESUCIAN”
bukankah lebih baik kau tutup itu
seperti yang telah di ajarkan
layaknya seperti wanita penghuni surga
menjaga madunya hingga seorang kumbang
seorang kumbang milikmu menikmati madu
sehingga ia akan mati bersama layumu

tangkai bunga mawar
aku kan datang menjemputmu menikmati madu
dan akan ku di sini untuk menumbuhkan bunga yang indah
yogyakarta 2 januari 2004

Hati lega melihat senyumnya antar aku pergi
Aku pergi setelah kecupan telapak tangan beliau usai
Sungguh ibu, seyummu menjadikan aku lebih bersemangat
Doakan aku ya, agar meraih banyak hasil
Cita – cita, harapanmu, dan menantumu
Hari ini, esok hari, hingga mati

Untuk ibuku tersayang
Yogyakart, 29 08 05


Ramadhankah bulan ini, mimpi
Aku telah ada di ujung waktu saat ku berasa
Namun kini di tengah perjalananku
Alami sakit kecil yang mampu menggugah benteng

Entah siapa yang mengubah bahasa ini
Merupakan lingkungan yang ada disekitarku
Rubahlah air mataku yang menghilangkan tembok nuraniku
Menjadikan keluapan kebahagiaanku dengan “ diam “

Aku ingin diam tanpa bicara
Bercinta dengan kecilnya dosa
Menuai rimbunnya padi karna diam
Memberikan kehangatan dada dinginnya kepala
Bersembunyi dibalik pribadi
Menjadikan penuh hal yang tak terlihat
Meniduri dan tertidur bersama sebuah kerahasiaan

Berikanlah hari ini pendirian
Menjadikan sebagai baik dan dosaku
Diam……..diam. karna benci diriku
Tak ingin ku berkosong tong
Nyaringnya bila dipukul. Cerewet
Berharap padi yang telah tua

Keinginan dalam sebuah hati
Lebih sulit karena sedikit waktu
Tanpa berhenti lalu diam
Kan kurubah rahasia indra
Bercumbu dengan “diam “.

Saat ingin bercinta dengan diam, saat ingin ku mencintai diam dan saat waktu aku ingin terdiam. Yogyakarta, 28 oktober 2004

Untuk Hamdani empunya Sandal Bolong

Aspirasi, aspirasi, aspirasi
Sandal bolong
Siapakah yang bolong
Otak kosong kejujuranmu
Atau kekuatan bohong para atasan
Aspirasi dari aspirasi
Sandal bolong
Kau hebat bolong
Orang kecil bermuka besar
Para pembesar bohong takut padamu
Hampa karena sandal bolong
Kenapa harus minta tolong
Pada pejabat berotak tolol
Dia kerja karena uang selongsong
Sandal bolong
Tak tahu cerita namun aku suka
perjuangan kecil dengan jujur
Tanpa sandal bolong, tidak tahu
Siapa yang berbohong
Sandal bolong tahu
Pasti kan tertolong
Yogyakarta, 26 Desember 2004

Ispirasi ispirasi
Dimana kau muncul saat ku buru
Kenapa kau tak datang kali ini
Ada apa duhai ispirasi
Apakah kau itu ispirasi, ku lihat barong
Ah bukan pasti, ah iya
Ispirasi ispirasi
Apakah sudah hilang kau
Di otak dangkalku
Sudah berkaratkah kau ispirasi
Hay, iri aku melihat kau hinggap di orang lain
Dia sudah terkenal, kenapa kau jadikan ia terkenal
Aku yang ingin terkenal, kenapa tak kau singgahi
Ispirasi ispirasi
Ada apa dengan mu
Apakah aku harus makan terasi
Agar dapat kau ispirasi
Seandainya aku bisa bawa kau keluar
Tapi tak bisa ispirasi
Aku hanya bisa duduk untuk saat ini
Kenapa kau tak hinggap di otak para pengganggur
Agar dia punya karya, dari pada dia hilang jadi sampah
Ispirasi ispirasi
Kau bikin aku gila sendiri
Di mana aku cari kau ispirasi
Apakah di C, D, atau di CD room
Tapi tiap ku buka folder hanya ada data
Yang membuat ku bergidik ngeri
Bukan nya ispirasi tapi emosi
Banyak tugas sekolah yang belum aku kerjakan
Dasar ispirasi, kau ini buat aku murka
Ispirasi ispirasi
Aku butuh kau saat ini
Untuk selesaikan karya yang manusiawi
Berharap pada diri sendiri
Tanpa kaki agar mampu momongi
Ispirasi gila ispirasi lemah lembut
Gila


10 februari 2005

Peka diangkat tema
Mulai folikel hingga ujud
Setarakan nilai khusus amanah
Tiada paksa agar lurus
Patah dengan kekerasan
Rasio kecil dikuasai perasaan
Telah ditentukan dalam nilai tertinggi
Bukan hina, pemuas, ataupun setingkat

Tiada hina layaknya jahiliyah
Terinjak, aniaya, budak
Bukan pula setara uang
Terpasang kekuasaan kaum adam
Pemuas nafsu untuk hidup

Bukan tinggi agung, mahadewi
Dipuja terpuja, indahmu
Dimuliakan dan di hormati
Dilakukan pemuas birahi

Bukan pula samarata
Bebas, berkwajiban dan berhak dalam semua hal
Bukan hewan bukan dewi bukan pemuas bukan pula lelaki
Kau kodrat terjatah ikuti alur kemurnianmu
Aliri filsafat pemimpin islam
Mulia, ikuti fitrah, dan istimewa

Untuk mar ‘atus sholihah
Yogyakarta,12 september 05
Andy eko wibbowo
Kipas – kipas penyejuk hati
Mawar – mawar penghenyak mata
Mawas diri tanpa henti
Warna – warni hidup berlentera
Makna telaah ada khilaf
Sunyi damai khalifah
Bukan malaikat tanpa dusta
Kuasa berdiri mencipta
Ilahi, esa, kuasa, tanpa atasan
Luka lara hati dusta
Luka cacat berbisa nurani
Kuasa amarah percik noda
Tahmid penghilang lara
Tertindas bahasa kehidupan
Kipas – kipas kapal terambing
Rasa terhempas berlabuh
Tanpa derma hidup
Punya makna teriakan hidup
Bisu sunyi tengah malam

Yogyakarta, 14 september 05
Andy eko wibowo
Wanitaku, apakah kau malu
Cantik sayang, baik lesan maupun dalam
Sempat kagum untuk dikenang
Karna sebuah Dewasa ada pada dirimu
Untuk wanitaku, kau selalu bahagia bukan

Wanitaku, sungguh tidak mampu aku berasa
Saat sebuah warna terukir dalam wajah
Membuatku berbuah rindu jika teringat
Ingin segeralah ku bertemu dinda
Menjadi ketenangan dalam hatiku

Wanitaku, sebisanya kau mengerti
Bagaimana hinggapnya rasa di hati ini
Berdegub dag…dig…dug… jantungku
Ingin secepatnya melihat bidadari ini

Wanitaku, saat ini kau bukan milikku
Karna belum mampulah jiwa ini membelimu
Membeli tawa yang kau suguhkan untukku
Saat keluar menemuiku bersama secangkir teh manis
Semanis dirimu dinda teh ini, merah wajah ketika ku puji

Wanitaku, kau tidak akan pernah beruban
Tidak akan pula layu karena kesedihan
Ataupun karam di dasar lautan
Ataupun……
Ah, dag dig dug hatiku jika sekilas ku teringat
Punya siapakah kau duhai wanitaku
Apakah aku mampu mempersuntingmu waktu lain
Semoga saja, sungguh bahagia jika…
Ah tak berani ku berkhayal, tidak jadi aku pasti kan kecewa
Dag dig dug jantungku berdegub

Surat cinta untukmu, wanitaku
Aku merasakan keagunganmu
10 februari 2005

Akhir desember hari ini
Semuanya harus kita sadari
Akhir desember kali ini
Harus kita maklumi
Akhir desember kali ini
Kita harus berteriak
Kita harus merintih sedih
Kita harus mampu intropeksi

Ingatkah kita ?
Tahukah kita ?
Pada tahun ini
Pada tiap bulan – bulan yang di akhiri desember kali ini

Ingatkah pada guncangan nyawa karena ledakan
Ingatkah pada koyakan manusia karena gempa
Ingatkah tembusnya nyawa karena letusan senjata
Dan ingatkah kita pada gelombang maha besar, tsunami
Yang saat ini telah menelan nyawa orang tanpa peduli

Apakah kita masih ragu akan pengingat yang di berikan olehNya
Kita sendiri yang mampu menjawabnya

Hai anak kecil!
Kau hanya di uji agar kau tak nakal
Agar kau tunduk dan patuh
Pada aturan Nya

Hai anak kecil !
Apakah kau masih ingin terus tak percaya?
Masihkah kau ingin tetap melakukan kejahiliyahan
Apakah kau masih ingin di hanguskan layaknya kaum Sodom

Layaknya, kita mampu mengambil makna dari semua ini
Akhir desember
Intropeksi dengan nalurimu
Akhir desember
Pejamkan matamu
Dan bebaskan semua batinmu
Akhirilah dan percayakan pada hatimu

Allah Maha Besar
Segala sesuatu adalah milikMu dan akan kembali kepadaMu

Yogyakarta, 31 desember 2004

Untuk siapa sebenarnya ku dicipta
Sebuah rekahan terlintas dalam benak
Dengan berpikir tanpa jawaban yang tepat
Untuk siapa ? lama terlintas

Untuk siapa aku dicipta?
Jawab, Dul ! jangan Cuma diam
“kenapa kau bentak aku’
aku hanya ingin luapkan

kurang ajar sayang, aku tak sudi
untuk siapa aku hidup ?
sialan! Hal itu lagi
aku tak mau menjawab
setan alas cintaku, kenapa lagi

Cih, kenapa kau paksa aku
Apa kau puas jika ku jawab
Untuk siapa ? untuk siapa ? untuk siapa ?
Aku hidup di sini bukan untuk tercipta
Aku duduk di bumi ini juga bukan untukmu
IBLIS SETAN
Aku tak mau tahu
Untuk siapa aku hidup di dunia ini
Apakah untukmu Iblis ?
Aku selalu menuruti perintahmu
Ketika benteng imanku hilang
Anjing dasar biadab
Kenapa kini aku lemah sekali
Aku tak sudi mengabdi padamu
Monyet, kenapa kau ada

Kembali lagi,
Untuk siapa aku ada ?
Aku hidup di sini bukan untuk cipta
Aku makan di muka bumi ini bukan untuk iblis
Apakah untukMu Ya ALLAH
Bohong, jangan munafik kau
Kau hidup dalam langgaran perintah
Kau berperilaku meninggalkan ajaran
Apa kau ingat sholat 5 waktu
Apa kau ingat kitapmu
Injil, taurat, ataupun kitap porno
Kau tak mungkin hidup untuk ALLAH SWT


Ya ALLAH , apa yang harus kujalani
Sebuah rahasia yang kan terungkap oleh dunia

Ya ALLAH, ampunilah hambamu
Berikanlah ingatan akan dosa
Berikanlah ingatan akan neraka

Ya ALLAH, ampunilah hambamu
Berikanlah hambamu rasa hina karna kebejatan moral

Ya ALLAH, berikanlah kesadaran padaku
Yang telah melupakanmu

Kembali lagi,
Hatiku, nuraniku, jiwaku, penyakitku
Aku hidup untuk siapa ?
Bagaimana lagi aku menjawab
Setan sayang, risalah hati !!
Kembali lagi ke pertanyaanku
Aku hidup untuk siapa ?
Diam ! monyet setan sial sayang
Aku tak bisa tahu, dongok
Tamatlah aku tanpa rasa senja
Wasiat saja yang tertinggal
Serta dosa uang berlimpah ruah
Memberatkan ku jatuh dalam neraka
YA ALLAH ampunilah aku

‘jalan tobatku masih dalam dunia ini ‘

Yogyakarta, 16 desember 2004

Wanita tak bisa kurasa
Jalanmu kemana tak mampu aku bicara
Kulihat, segala pesona kerahasiaanmu
Aku ber asa tanpa dinda, wanita

Wanita, seolah kau ciptakan warna
Menghentikan tiap langkah citaku
Karna kesan yang kau cipta
Azimat berduri, wanita

Wanita, salah satu tulang igaku
Kurasa telah, namun entah
Berkuasa dalam hati tanpa paksaan
Sekuntum kelembutan kau cipta, wanita

Wanita, menjadikan ku ingin kembali
Entah berapa purnama lagi
Tapi pasti sekian langkah dariku
Untuk tatapan langkahku, wanita

Wanita, aku perkasa karna berani
Namun kau hebat karna hati
Bersemayam dalam diri, terpikir
Sebuah rasa kilauanmu, wanita

Wanita,jarang kau berucap
Kilau emas dari surga ketika kutatap
Ingin ku milik tanpa harus berkata
Dengan sebuah hati gemerlapan cahayamu kumiliki
Wanita

Wanita bermakna bagiku dalam kisahku
Menjadikan bunga dalam kedekatan
26 september 2004

Dapatkah ku merasakan keharumanMu
Menjadikan sebuah nada – nada nafas penentram hati
Tunjuk pada keajaiban sepanjang masa
Makna bab kata dari mu’jizat

Dapatkah keharumanMu menentramkan hatiku
Menyelimuti dan menidurkan sebuah kebathilan
Merasakan keindahan dari sebuah keabadian
Nada deru kemerduan tak ingin kulepaskan
Menjadikan keinginan tuk dekat dengan penciptaMu

Dapatkah keharumanMu memaniskan kharismaku
Hanya satu maksud, mencari cintaNya tanpa menceraikan
Tanpa membuatnya cemburu karna ku mendua
Tak inginlah aku mendua, orang terhina mendua

Ingin tetap kau ada dalam jantungku
Dalam satu purnama, dua belas, hingga aku hilang tertelan
Mengatur hidupku
Mulai saat ini kau harus menjadi istriku
Penentram hati, pengingat diri, serta penerang jalan
Agar aku tak tersesat sayang

Waktuku milik penciptaMu
Jiwaku! Sama saja
Bahtera hidup kuarungi untuk mendapat mahligai cinta
Berikanlah keharuman serta keindahan tuk bercinta dengan iman
Kan ku tukar dengan kharisma sebagai sesaji penciptaMu

Dapatkah keharumanmu membawaku mencium surga
Memberikan kunci pintu neraka untuk di tutup
Merasakan kenikmatan yang akan kugapai
Berilah rasa agar ku slalu ingat
Berilah karsa sehingga aku tahu
Berilah hamba nurani tuk melihat
Sebuah realita di kehidupan surga ataupun neraka

Ketika bermimpi tentang keabadian di akhir zaman.dan saat syeitan terbelenggu karena sebuah Ramadhan Yogyakarta, 19 oktober 2004.


Warna
Aku saat bimbang, bingung, ataupun resah
Sulit tuk menentukan warna
Agar aku tak marah, bersedih
Sehingga aku gembira

Aku saat bahagia, suka akan cinta
Sulit tuk merubah warna
Aka kupertahankan warna itu
Agar tak menjadi kelabu

Aku ketika berjanji, motivasi
Aku harus pertahankan warna
Sehingga tak berubah ke warna lain
Ku harus tahu prinsip sejatiku

Aku ketika depresi, sakit hati, marah
Sulit tuk memadamkan warnanya
Sehingga tak berkobar sampai ke lidah
mata, telinga ataupun alat gerakku

aku harus berpikir
tuk hadapi semua warna
kan kutunjukan
bagaimana bertempur dengan warna

siapa bilang warna itu selamanya indah. Yogyakarta, 7 juli 2004


Akhir desember hari ini
Semuanya harus kita sadari
Akhir desember kali ini
Harus kita maklumi
Akhir desember kali ini
Kita harus berteriak
Kita harus merintih sedih
Kita harus mampu intropeksi

Ingatkah kita ?
Tahukah kita ?
Pada tahun ini
Pada tiap bulan – bulan yang di akhiri desember kali ini

Ingatkah pada guncangan nyawa karena ledakan
Ingatkah pada koyakan manusia karena gempa
Ingatkah tembusnya nyawa karena letusan senjata
Dan ingatkah kita pada gelombang maha besar, tsunami
Yang saat ini telah menelan nyawa orang tanpa peduli

Apakah kita masih ragu akan pengingat yang di berikan olehNya
Kita sendiri yang mampu menjawabnya

Hai anak kecil!
Kau hanya di uji agar kau tak nakal
Agar kau tunduk dan patuh
Pada aturan Nya

Hai anak kecil !
Apakah kau masih ingin terus tak percaya?
Masihkah kau ingin tetap melakukan kejahiliyahan
Apakah kau masih ingin di hanguskan layaknya kaum Sodom

Layaknya, kita mampu mengambil makna dari semua ini
Akhir desember
Intropeksi dengan nalurimu
Akhir desember
Pejamkan matamu
Dan bebaskan semua batinmu
Akhirilah dan percayakan pada hatimu

Allah Maha Besar
Segala sesuatu adalah milikMu dan akan kembali kepadaMu

Yogyakarta, 31 desember 2004

Ramadhankah bulan ini, mimpi
Aku telah ada di ujung waktu saat ku berasa
Namun kini di tengah perjalananku
Alami sakit kecil yang mampu menggugah benteng

Entah siapa yang mengubah bahasa ini
Merupakan lingkungan yang ada disekitarku
Rubahlah air mataku yang menghilangkan tembok nuraniku
Menjadikan keluapan kebahagiaanku dengan “ diam “

Aku ingin diam tanpa bicara
Bercinta dengan kecilnya dosa
Menuai rimbunnya padi karna diam
Memberikan kehangatan dada dinginnya kepala
Bersembunyi dibalik pribadi
Menjadikan penuh hal yang tak terlihat
Meniduri dan tertidur bersama sebuah kerahasiaan

Berikanlah hari ini pendirian
Menjadikan sebagai baik dan dosaku
Diam……..diam. karna benci diriku
Tak ingin ku berkosong tong
Nyaringnya bila dipukul. Cerewet
Berharap padi yang telah tua

Keinginan dalam sebuah hati
Lebih sulit karena sedikit waktu
Tanpa berhenti lalu diam
Kan kurubah rahasia indra
Bercumbu dengan “diam “.

Saat ingin bercinta dengan diam, saat ingin ku mencintai diam dan saat waktu aku ingin terdiam. Yogyakarta, 28 oktober 2004

Rindukanmu malam ini
Agak cengeng pun bisa di kata
Mengharap agar cepat sampai
Hingga kamu tersenyum gembira

Aku tahu, tuk ingat kau
Tuk perbaiki diri, demi kau
Tuk lebih dewasa, mencintaimu
Baru kali ini, sebuah cinta dan di cinta

Pernah merasa namun belum rasakan
Ya, belum rasakan cinta
Hari ini, malam ini, esok nanti
Kankah terus memaknai, rasa hati

Ku tahu, bersama itu dulu
Bersama hanya mimpi, tuk sekarang
Gembira dalam hati, dimimpi
Aku kan bangun, semangat kan datang

Berdoa, berusaha bergembira
Bersyukur dan tertawa
Aku maknai cinta
Sebuah kesedihan kegembiraan, kebersamaan



31 agustus 2004
tuk andy bangunlah dari tidur


Andy eko wibowo

Merah putih

Aku hidup di bawah gagahnya kibaranmu
Ratapi tangis karna hilangnya perkasamu
Dihina, ternoda oleh kedurhakaan anakmu
Diinjak – injak tanpa rasa hormat

Jerit tangis teringat akan kehormatan
Hilang remuk tanpa bentuk
Layu tersayat – sayat zaman
Renta tanpa tongkat penyangga

Kau berdiri gagah, saat itu
Banyak penopang setia sebagai tonggak
Melindungimu dari hujatan bangsa lain
Membantu berjuang tuk kegagahanmu

Kini sedikit sekali penyanggamu
Yang membantumu berdiri tanpa pamrih
Yang melindungi kegagahanmu untuk bangsa
Tapi kini layaknya kuli
Bekerja dengan pamrih
Lain dulu, demi jiwa raga mereka menyangga

Merah putih. Kapan kau tunjukan keperkasaanmu kembali?
Apakah harus menunggu bersatunya penyanggamu
Merah putih. Kapankah kau tunjukan bahwa kau dapat berdiri tegak
Agar ku mampu berdiri bangga berteriak
Aku bangga menjadi pertiwimu. Merdeka karnamu

Merdeka dari jiwa hina
Merdeka dari tanyangan zina
Merdeka dari ratapan tangis saudaraku
Merdeka dari pasungan negara lain

Indonesia.
Kau bukan sandal yang pantas untuk di injak – injak
Indonesia.
Kau bukan kuda yang enak di kendalikan
Indonesia.
Kau bukan keledai yang di bodohi dengan mudah
Indonesia.
Kau bebas tidak terpasung oleh negara lain
Indoneisa. Indonesia.


Realita saat ini,hari ini
Aku meratap melihat nya
Kenapa?apakah ini nyata
Hanya dalam televisi aku melihatnya
Tapi semua itu apakah nyata?
Suara ledakan sebagai lagu favorit di radio
Kepala terpisah adalah hal unik dalam televisi
Rentetan pistol sebagai actifitas orang berkuasa
Korupsi sebagai mata pencaharian
Rutinitas adalah melihat keindahan rendahnya derajat Kaum hawa
Tangis anak ayam merupakan peliharaan Mu

Kapan berakhir, ku nanti jawabnya
Laskar ampuh kini siap menerkam
Kayu penyangga dapat jatuh tiap saat karna rapuh
Tanpa dien penyangga
Yang jadikan ketenangan sebagai kehidupan
Ketentraman sebagai surga dunia
Agama sebagai kebanggaanmu
Persatuan dan kesatuan penyanggamu
Berkibarlah dengan gagah. Berkibarlah
Merah putihku janganlah kau layu

28 September 2004, ketika kau berkibar saat hanya tertiup angin, tanpa makna. Dan ketika kau telah tua, tidak semakin gagah. Kau lusuh tanpa perawat, compang tanpa penyangga serta camping tanpa pemilik.

Aku sakit, jiwa dan raga
Jasmani membuatku merintih
Merasakan sebuah derita yang kucipta
Derita yang ku cipta dari sebuah rohani

Sakit dan penyakit yang sulit tuk diobati
Ternyata sulit tuk melakukan jihad
Lebih mudah berjihad mempertaruhkan kepala
Sulitnya jihad menghindari pintu neraka

Hancur ragaku, remuk jiwaku
Engkau memberikan samunan kebahagiaan
Sebagai musuh besarku. Musuh yang ada
Musuh yang mampu mengantarkan ke dua jalan
Surga atau neraka

Kau memberikan akal pikir
Agar mampu bertempur dalam sebuah game
Kau memberikan keinginan
Menjadikan ku lakon hidup atau mati

Hidup dalam dien
Kepercayaan telah menghancurkan musuh
Kepercayaan menyamunkan kemenangan sebagai kekalahan siksa
Dua pilihan hidup. Dalam ketentraman dengan musuh yang terlelap
Hidup bersamanya berjalan terus menuju kenikmatan dunia
Serta menghancurkan jiwa dan raga di dunia maupun di neraka

Mati dalam kepenasarannya
Belum mencoba langgaran norma
Maupun mati tertawa karna musuh
Mengantarkan aku ke surga

Diriku sekarang masih di tengah jalan
Jalan kemunafikan menuju neraka
Jalan kedurhakaan berjuang dengan musuh
Tanpa kepercayaan, tanpa kemenangan yang nyata

Waktu berjalan aku yakin, aku sesali
Waktu terus berjalan dan suatu ketika
Tembok baja menghalangi penyesalan
Akal pikir serta dien




Itulah musuhku
Menghancurkan tembok baja
Ketika waktu berjalan
Menghilangkannya jauh dalam kehidupan

Aku tanpa musuh fisik saat ini
Lebih sulit berjuang tuk bertalu – talu
Menderita kala waktu datatedfgng, bahagia
Setelah hilang sesal serta akal pikir hidup lagi

Aku harus mampu berjihad
Melawanmu saat ini
Tuk mencoba memenangkan permainanmu YA ALLAH
Agar aku mampu menjadi permainan terbaikMu


Ketika tembok baja tak menutup akal pikirku. Serta penyesalan masih hidup dalam diriku .Yogyakarta,14 September 2004

Ku coba tuk ciptakan sesuatu
Tapi kali ini bukan untukmu
Untuk diriku yang terombang ambing
Kehilangan dien yang memusat
Memang, aku ada disini
Menulis dimeja, berpikir, dapat belajar
Ragakupun masih mampu duduk
Memelototi komputer ataupun pejamkan mata
Namun penuh bayang
Keputus asaan dalam dunia
Kegelapan dalam hati
Terpenjara oleh keinginan
Tak tahu harus berjalan dari mana
Apakah masih bisa berlari
Menyelami kedalaman tanpa cahaya
Mengabdi dan berteriak dari kegelapan
Namun kali ini lebih menakutkan
Aku tak merasa dalam kegelapan
Walau tau terisak – isak
Kini aku buta, tak mampu mencium yang haq dan bathil
Tak mampu mendengar aroma cintamu
Sulit mengatakan gejolak hati yang terkabut
Tak di sampingMU dan merindukanMU seperti kedekatan tempo waktu
Aku takut bertemu saat ini
Aku buruk saat ini
Aku lupa diriku hari ini
Tanpa hati tak bisa menerangi
Sebuah nurani

September 26 2004

Surat cinta untuk kekasihku

Apakah aku layak menulis ini?
Seandainya surat ini aku kirim untukmu dinda
Mungkinkah kau akan menerima sebuah rasa ini
Rasa berasa, tanpa asa yang ada dalam jiwa
Oh dinda, aku merindukan. Merindukan sendiri
Biarlah jika bisa kerinduan ini ku tukar dengan kebahagian
Tentunya kebahagianmu dindaku
Agar kau tetap tersenyum sehingga mampu kurasakan

Apakah surat ini layak untukmu, dinda kekasihku?
Sungguh bukan aku lancang maupun nakal
Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku masih
Aku masih dan selalu ada menyediakan hati untukmu

Bolehkah aku memujimu ketika hatiku dirundung rindu
Bukan karna memujamu, namun karna kerinduan
Aku saat bersamamu, takut ketika aku berpisah
Inginku selalu di jauhmu, agar terpelihara rindu
Agar dapat ku mengembangkan cintaku

Semuanya ada, aku bukan apa – apa
Semuanya tercipta, aku hanya maya tanpa ujud
Jangan hiraukan aku untuk di dekatmu
Lebih dari persahabatan, aku takut.
Biarlah aku di belakangmu
Menikmati kerinduan tanpa kau tahu

Aku tak layak untuk kau baca
Karna aku takut kau tahu semua keburukan
Aku buruk, lebih suka ku melihat kau bahagia
Bukan dengan ku sayang

10 februari 2005

Detak kagum ketika melihatmu, terpancar penuh karisma dari sudut wajahmu
Aku takut untuk lebih dekat, serta tak ingin lebih jauh
Sebuah kata hati yang tak boleh menjadi duri dalam diri
Biarlah ini sebagai tanda ungkapan bahagia, ketika melihatmu tertawa
Selamat ulang tahun, semoga kedewasaan akan membimbing ke arah jati diri
Untuk 22 februari 2005 terima kasih telah memberi sahabatku waktu hidup untuk tetap bersyukur kepada penciptanya
Semuanya akan semakin tak terlihat tanpa semangat
Menjadi maya tanpa kejelian yang pasti
Berbuah hilang jika tak kau hiraukan

Bukalah celah dengan motivasi
Raihlah cahaya dengan karsa dan rasa
Nikmatilah dengan sujud setelah kau perolehnya
Dan berakhirlah dengan sempurna meninggalkan cahaya itu

Jangan rasakan keberadaanku
Jangan hiraukan kepenasaran hatimu
Karna aku maya tak mampu kau tebak
Kau mungkin tahu diriku, namun tak seharusnya kau melihat jalan pikirku
Tsunami, dasyatnya dirimu
Bukti kebesaran illahi
Tsunami, keindahan mu lah yang mengakibatkan aku ingat
Tsunami, siapa lagi jika bukan pembawa mati
Tsunami, tanpamu kami tak tahu
Bahwa kau mampu membinasakan kami
Beritamu membuat tiap gossip di muka bumi ini tidak laku
Beritamu membuat kami tak mampu merayakan tahun baru
Bencanamu tak mampu menjadikan kami bahagia
Karnamu aceh menjadi kuburan
Karnamu aceh menjadi bangkai manusia
Karnamu banyak perusahaan berpromosi dengan menyumbang
Tuk cari simpati
Entah iklas atau tidak
Ingin ku menyumbang, tapi apa?
Aku berdoa. Pejamkan mata
Ya ALLAH Pencipta Tehnologi
Aku tahu ciptaanMu memang besar
Dengan itu kau tunjukan ketegasan yang luar biasa
Aku tahu dalam keadaan ini pasti kau memiliki konsep
Yang akan mengejutkan semua ciptaanMu
Telah kupikir bahwa kami harus bersatu membantu

YA ALLAH YANG MAHA KUAT SERTA MAHA HEBAT
Kau tunjukan kekuatanMu dengan menggulingkan nyawa yang kau inginkan
Berapapun jumlahnya bukanlah apa – apa
Hanya agar kami mengingatMu
Hanya agar kami bersatu
Hanya untuk memberi satu ucapan
SEMBAHLAH AKU

YA ALLAH SANG KONSEPTOR TERBAIK
Dengan konsepmu aku yakin ada jalan terbaik
Dengan konsepmu pasti ada hal yang kau inginkan
Ambillah jika kau mau maka kami akan rela tak bisa berbuat

Yang ingin kami tanyakan
APAKAH KAU MEMANG PENGUASA ?
Tak akan kami ragukan
APAKAH KAU ADALAH PENCIPTA?
Tak akan kami ragukan
APAKAH KAU SELALU MENANG ?
Pasti kaulah pemenang

Aku anak kecil yang tak ingin percaya
Aku anak ingusan yang tak ingin bertanya
Kenapa kau begitu dasyat
Apakah bukti dari penciptamu
Duhai ciptaan ALLAH, kenapa kau menari diatas kematian
Kenapa kau bernyanyi di depan tangisan kami


Aku hanya berputar – putar tanpa inti
Untuk menyebutkan mu tsunami
Aku tak mampu berkata kau ini gila
Tanpa makna puluhan ribu nyawa kau hanyutkan

Yogyakarta,1 januari 2005
Telah lama ku tiada kata untuk kelembutan...entah telah berapa purnama, hatiku enggan menorehkan lukisan malam....lukisan karya ilahi....
entah kenapa...inspirasi itu tiada muncul lagi, entah kenapa naluri kelembutan itu tiba – tiba hilang...berganti dengan hati keras dan hampa...

kipas – kipas penyejuk hati...telah pergi, entah! ku tak tau kapan kembali
nada – nada penenteram jiwa, entah! kapan ia akan bersemayam lagi dalam rohani
detak – detak jantung asmara dan cinta, entah!kapan akan bersanding denganku tanpa menorehkan luka...
pola bahasa,pola kata, dan balutan kharisma nada – nada indah, tak bisa lagi ku ciptakan...
mungkin...diriku telah berubah...
berubah penuh dengan decak – decak langkah kehidupan yang keras...decak – decak kata yang lepas....dan decak – decak cacat azimat...

entah ...ku tiada lagi temukan sisa sisi sisi hidupku....
entah...ku tiada lagi temukan keindahan penenteram hati, iman
entah...ku tiada lagi pernah dengar desir bahasa tuhan,kebenaran

aku buta...
aku tuli...
aku tiada berasa...
aku putus asa....

bolehkah aku bertanya ?
Nurani!dimanakah engkau
aku ingin kau kembali untuk membasahi hatiku yang telah kering
iman!pergikah??
aku ingin kau memberikan pupuk agar aku tumbuh sempurna
cinta!matikah?
Aku ingin kau menjagaku agar nafsu ini terkendali...

sekali lagi
aku buta...tuli...tiada berasa...putus asa...
aku bukan manusia...

yogyakarta,8 february 2006

melepas malam merenung akan perubahan....