Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Monday, October 8, 2012

Cara memurnikan sampel yang jumlahnya sedikit!!! (<50 mg)

Dear kawan – kawan….

Ada kalanya kita meneliti sesuatu dalam kondisi mini atau jumlah sampel yang sedikit dan di saat memurnikan, jumlah sampel sangat – sangat kecil (< 50 mg). Emang seberapa kecil sih sampel 50 mg? coba aje timbang serbuk terserah di timbangan mg, pasti kalian akan terkejut!!! Untuk itu di perlukan metode pemurnian yang lebih detail sehingga sampel yang sangat sedikit tersebut dapat termurnikan namun tidak berkurang banyak ketika preparasi sampel dilakukan. Bayangin aja klo misalnya kita tetap bekerja menggunakan metode yang digunakan untuk bekerja seperti chapter sebelumnya, boro – boro dapat senyawa murni, pasti sampel kita habis duluan, dah habis waktu, ditambah capek lagi melakukan hal sia – sia dan sangar merugikan. Untuk itu, berikut akan di bahas beberapa teknik pemurnian yang akan digunakan untuk jumlah sampel kurang dari 50 mg.

Ada beberapa teknik pemurnian modifikasi untuk pemurnian jenis ini, yakni pengembangan dari metode destilasi (jika sampel cair), pengembangan dari metode rekristalisasi, dan bentuk mini kromatografi kolom. Yuk, kita bahas satu persatu.

Destilasi

Metode destilasi ini di modifikasi, tidak menggunakan alat destilat (corong destilasi), namun diganti menggunakan labu Kugelrohr. Labu Kugelrohr yang digunakan yakni yang mempunyai sambungan ground glass agar senyawa nantinya tidak menguap keluar. Kaya apa sih labu kugelrohr itu? Wujudnya seperti ini :

image

Jadi, modal untuk memurnikan menggunakan metode ini adalah 2 labu kugelrohr dan 1 labu alas bulat sehingga bentuknya ketika disambungkan menjadi seperti ini :

image

Tentunya dengan ukuran yang mini karena disesuaikan dengan jumlah sampel yang mini. Langkah pertama adalah masukkan sampel ke dalam labu alas bulat, lalu disambungkan sehingga menjadi seperti gambar diatas, dan buat posisinya horizontal. Habis itu, panaskanlah dengan suhu menguap sampel hingga akhirnya sampel akan menguap dan berpindah ke lingkaran yang ditengah dimana itu merupakan sampel yang terdestilat dan murni. Tunggu hingga dingin agar sampel yang menguap turun semua, kemudian pisahkan rangkaian tadi untuk mengambil destilat.

Terpisah deh!!senyawa murninya dengan pengotor baik endapan maupun cairan yang memiliki titik didih berbeda dengan titik didih senyawa.!!!

Kristalisasi

Kristalisasi pada skala kecil banyak dilakukan menggunakan craig tube seperti dijelaskan di chapter sebelumnya.

Kromatografi

Untuk teknik yang satu ini tentunya tidak asing lagi kan? Karena memang semua teknik kromatografi dapat digunakan untuk memurnikan sejumlah kecil material. Kebanyakan sih yang digunakan untuk memisahkan sampel dalam jumlah yang kecil adalah hplc dan gc. Nah…masalahnya, kan banyak orang yang kagak punya HPLC dan GC? Trus??

Solusinya adalah menggunakan kromatografi kolom termodifikasi kondisi mini, alias mengubah kolomnya menggunakan pipet Pasteur. What?? Pipet? Pipet Pasteur se ukuran kecil kaya gini :

image

Yup…dengan pipet Pasteur seukuran kaya gitu, kita akan memisahkan senyawa yang berjumlah mini. Prinsipnya sama dengan kromatografi kolom hanya ukurannya yang mini.

image

Gambar di atas ini adalah dua kromatografi kolom, yang kiri menggunakan pipet Pasteur sedangkan yang kanan adalah kromatografi kolom yang biasa digunakan untuk memisahkan sampel dalam jumlah besar.

Cara preparasinya adalah masukkan kapas terlebih dahulu didalamnya sebagai penahan agar silika tidak keluar nantinya. Pastikan kapas tersebut benar – benar bersih dari senyawa lain!!

image

Setelah itu, masukkan silika yang sudah diaktifasi dalam suhu panas (aktifasi silika biasanya dalam suhu 120 o C selama 4 jam). Sebaiknya silika di buat bubur terlebih dahulu dengan menggunakan pelarut yang akan digunakan sebagai fase geraknya agar udara yang tertangkap dalam silika hilang, but…ada sebagaian peneliti yang langsung memasukkan silika keringnya seperti gambar di bawah ini :

image

Jumlah silika kalo bisa tergantung dari jumlah sampel yang ingin dimurnikan, tapi di sarankan untuk mengisi pipet kurang dari ¾ panjangnya, agar ada tempat untuk solven nantinya. Habis itu apa? Masukkan sampel yang akan dimurnikan, dan kemudian fase gerak ditambahkan dan turun menggunakan gaya gravitasi. Ketika fase gerak telah menyentuh bawah kolom, tekanan dapat dilakukan dengan memasagkan karet pipetnya sehingga fase gerak akan turun lebih cepat. Tampung fase gerak yang turun tiap sekian ml menjadi beberapa fraksi, kemudian deteksi menggunakan KLT untuk mengetahui fraksi mana yang terdapat senyawa kita seperti yang dilakukan pada kromatografi kolom umumnya

Gitu kawan – kawan…beberapa teknik pemurnian yang dapat saya jelaskan…..semoga dapat bermanfaat di kemudian hari. oh iya, kalian tau belum kalo ternyata pipet pasteur ini juga bisa digunakan untuk memisahkan dua senyawa cair yang saling tidak larut tapi dalam jumlah yang sedikit? Seperti ini neh caranya :

 

image

Oke…cukup deh..sampai disini dulu belajar kita hari ini…..semoga ilmunya bermanfaat!!!

1 comments:

ris said...

Artikel yang menarikt...
Bila memakai hplc (untuk isolasi) senyawa 50 mg itu termasuk buanyak... Untuk bisa dikerjakan hingga elusidasi struktur, senyawa yg 5 mg bila dimurnikan dgn hplc biasanya loss nya adalah sktr 20%... Tp kalau ga ada hplc memang repot... Belum lagi mencari kondisi pemisahan yg tepat kan juga butuh sampel buat orientasi... Tanpa hplc memang benar benar riskan...