Total Pengunjung Blog

Blog Archive

Followers

Popular Posts

Tuesday, April 5, 2011

 

Bagan alur ada di bawah….andy tampilkan di awal tulisan, agar nanti setelah membaca bagan bisa lebih paham.

1. Resep Datang

    ketika di apotek, ada pasien membawa resep datang, maka pihak apotek  (biasanya front office) menyambut pasien dan mempersilahkan pasien untuk menunggu sebentar.

2. Skrining resep

    selanjutnya pihak front office memberikan resep kepada petugas penyekrening resep (harus apoteker) segera melakukan skrining resep. Skrining resep ini antara lain skrining administratif, skrining farmasetis, dan skrining klinis.

     a. Skrining administratif. Berguna untuk menghindari kesalahan penulisan resep maupun pemalsuan resep. Yang dianalisis dalam skrining ini antara lain ada tidaknya maupun keaslian dari :

ada tidaknya Nama,SIP dan alamat dokter.

ada tidaknya dan logis tidaknya Tanggal penulisan resep.

ada tidaknya Tanda tangan/paraf dokter penulis resep.

ada tidaknya Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien (jika perlu).

benar salahnya Nama obat , sesuai tidaknya potensi obat , dosis, jumlah yang minta.

jelas tidaknya Cara pemakaian untuk pasien

     b. skrining farmasetis. Yakni menyesuaian dengan kondisi pasien tentang  :

bentuk sediaan,apakah cocok digunakan pasien?

dosis apakah sesuai dengan usia, umur, atau berat badan pasien. Sesuai disini maksudnya dapat menyelesaikan problema terapi pasien. Disini akan dihitung dosis dan apakah dosis over dosis atau tidak.

potensi obat, cocok tidak khasiatnya dengan penyakit yang diderita pasien,

stabilitas, apakah apabila obat ini digunakan dalam bentuk sediaan tertentu (misal cair), apakah stabil atau tidak

inkompatibilitas,apakah obat satu berinteraksi dengan obat yang lainnya ketika dicampur/ketika dibuat, apkah rusak atau tidak

cara dan lama pemberian apakah dapat menyebabkan kenyamana pada pasien atau tidak.

     c. skrining klinis

adanya alergi, efek samping, interaksi,obat .

kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).

disini juga harus benar – benar dicatat adalah

cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi, sehingga nanti bisa disampaikan pada saat konseling.

apabila tahap skrining ini bermasalah, maka kita harus dapat mencari solusi nya lalu memberikan solusi itu kepada dokter.

 

3. Pemberian Harga

       untuk pemberian harga, maka caranya bisa di lihat disini….

apabila pasien dengan harga yang kita berikan, maka akan segera dilakukan penyiapan/peracikan obat. Namun, permasalahan terjadi apabila pasien sensitif terhadap harga,sehingga pasien tidak setuju dengan harga yagn diajukan.

maka penanganannya adalah mengajukan obat alternative dengan jenis, jumlah, jumlah item dan harga sesuai kemampuan pasien. Disinilah terkadang akan muncul kopi resep. Karena dengan kopi resep ini pasien bisa menebus setengah obatnya terlebih dahulu, baru setelah itu, bisa ditebus waktu berikutnya. Disinilah juga terkadang ada pergantian obat paten satu dengan obat paten satunya yang lebih murah atau pergantian obat paten menjadi obat generiknya. Setelah pasien setuju dengan harga obat, maka tahap selanjutnya adalah penyiapan /peracikan obat. Namun apabila memang benar-benar pasien tidak mampu untuk menebus obat dan dapat dibuktikan dengan rasa dan etika, maka itu kebijakan dari apotekernya, apakah akan memberikannya secara gratis atau menghutanginya.

 

4. Penyiapan/peracikan obat

    tahap yang dilakukan pada penyiapan /peracikan obat antara lain penyiapan/peracikan,  dan penyerahan obat ke pasien. Yang melakukan tahpa ini tidak harus apoteker, bisa tenaga ahli kesehatan seperti AA,ataupun tenaga terlatih lainnya.

1. Peracikan. dalam peracikan, dilakukan kegiatan penimbangan obat , pencampuran obat apabila obat perlu dicampur (dijadikan serbuk, cairan, dll), kemudian pengemasan setelah obat berhasil dibuat. Dan tahap selanjutnya adalah pemberian etiket. Yang harus diperhatikan adalah tahap ini harus jelas prosedurnya, ada protab/sopnya dengan memperhatikan tahap tahap kritikal seperti dosis yang harus tepat, pencampuran yang harus tepat. Etiket pun harus jelas dan dapat dibaca serta mudah dipahami. Pengemasan pun harus rapi dan dapat menjaga kualitas dari obat tersebut.

2. Penyerahan obat ke pasien.

    sebelum obat di serahkan kepasien, maka harus dilakukan pengecekan kembali terhadap kesesuaian antara obat dengan etiket, obat dengan resep. Di sini yang mengecek kembali biasanya adalah orang lain.

     Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker dan dilakukan konseling serta pemberian informasi, dan edukasi agar pasien dapat complience maupun adherence.

5. Pemberian informasi, edukasi, dan konseling

¢Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini.

¢Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi

¢Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya.

¢Untuk penderita penyakit tertentu seperti cardiovascular, diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan agar bisa menghasilkan outpun maksimal dimana pasien dapat complience dan addherence

    6. Monitoring penggunaan Obat

ini lebih dikhususkan oleh pasien – pasien yang mempunyai penyakit kronis, seperti DM, antihipertehnsi, dll.

image

0 comments: