Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Saturday, November 27, 2010

SEbelnya bukan maen klo rebutan internet sama ade. Laptop ada dua tapi kabel L.A.N nya cuma ada satu. Karena aku pinter dan peka terhadap masalah – masalah kecil akhirnya ini aku anggep sebagai MASALAH.

tahap identifikasi masalah sudah selesai, tahap berikutnya adalah mencari pemecahan masalah .

Setelah bertanya kepada mbah dukun google, Ada beberapa cara pemecahan masalah, pertama:

1. beli kabel L.A.N lagi

2. pake yang namanya add hoc

3.pake sopware

akhirnya aku memutuskan untuk cara yang kedua karena kedua cara lain membutuhkan sekelumit uang dan keribetan.

 

nama sopwarenya connectivity, bisa di donwload di sini.

Nah…setelah didownload, kita bisa membagi internet kita yang pada laptop kita di colokin kabel lan ke laptop lain. laptop lainnya mengaccess menggunakan wifi. Dengan kata lain, kita bisa membuat hotspot menggunakan wifi laptop kita. keren kan!!!(padahal bagi anak – anak komputer ini hal yang biasa, tapi bagi anak farmasi, ini hal yang luar biasa, hehehe…

Instal software nya di laptop yang akan menjadi pusat hotspot.

setelah di instal, klik logo yang ada di bawah ini :wifi

setelah itu akan muncul window seperti ini :

wifi2

                                                                             sumber gambar. Nice.yan.blogspot.com

isi nama dan password terserah dirimu, lalu internet di isi dengan perangkat apa yang kamu gunakan untuk menyambungkan dengan internet (kabel L.A.N, atau modem). kwmudian setelah itu langsung saja bisa kamu click star  hotspot. maka kun fayakun, jadi jadilah!!!laptop adeku bisa internetan , laptopku juga bisa. Uasek tenan.!!G rebutan lagi.!!!heheehe..

 

DAFTAR PUSTAKA

http://nico-yan.blogspot.com/2010/03/membuat-hotspot-menggunakan-wi-fi.html

Friday, November 26, 2010

Sudah membaca cerita masa kecilku dimana aku kehilangan bola kasti?? silahkan baca dulu disini

-------------------------------------------------------------------

kecerdasan emosiku mulai berkembang, kesalahanku saat itu, kenapa aku tidak berani mepertanggung jawab kan perbuatanku, tidak berani bersikap satria mengatakan kepada temen – temenku untuk meminta maaf, hal itu karena ketakutanku…kehilangan mereka. Mulai saat itu aku yakinkan ma diriku, sahabat adalah orang yang selalu ada untuk kita, maka aku tak boleh kehilangan mereka.

Adapun salah satu dari dua orang yang ingin aku ceritakan kali ini adalah orang yang sangat mengerti diriku, lebih tepatnya karakterku. dia sering aku tinggalin, tapi tidak pernah sedikitpun meninggalkanku. Sering aku buat kecewa, tapi selalu memaafkan aku.

Kedua orang ini spesial buatku, karena mereka adalah orang yang diberikan Allah buat nemeni aku, buat nguatin aku, buat nyemangati aku, tempat curhatku ketika aku jatuh, tempat curhatku ketika aku rapuh, dan tempat pelarianku ketika aku kesepian (jahat ya aku!!!)…

Adel,…ehm..nama panjangnya…???JEDENG….saat nulis ini, aku mikir mikir, dan di otakku tak kutemukan nama panjangnya…HAHAHA…keterlaluan sekali G sih aku…segera aku raih HP ku dan aku sms dia

ADEL…Setelah aq pikir2 ampe skrg, jahatx diriq, aq tak mengenal nama panjangmu…hahaha…

hoi…segera sebutin nama panjangmu!!!jahatnya aq..hahaha

sambil ketawa- ketawa aku ngirim smsnya, EH…G Taunya dianya jual mahal banget….sial tuh anak..dia bls smsnya kaya gini..

Hah??Ngpain km nginget it, tumben..cari aja sendiri!!!aq ga mw kasi tw..:-D

Namaq khas sunda bgt..

dia sms aku lagi, setlah aku bls sms dia

Dasar dudul…emg payah km tuh!!hal spele dr diriq pun tak tw..

Jahatnyooooo…:-(, pokoknya harus ketemu…haha

wkwkwkwk…yang bisa aku ambil kesimpulan dari dua sms balesan dia, nama panjangnya tidak mungkin adel jumirah, adel suminten, adel painah, adel paijem, ataupun adel sumidah…wkwkwk..peace del!!!

--------------------------------------------------------------------

Aku mengenalnya udah lama, eh ralat bukan mengenal tapi tahunya dia ada di dunia ini sudah lama (kita g kenalan kok), tepatnya SMA kelas dua semester pertama. Bukan karena kita satu sma, dia di SMA PIRI sedangkan aku di SMA 1, kita saling tahu klo di dunia ini ada andy dan didunia yang sama ada adel pada saat ada acara pertukaran pelajar di Lampung. Kita dikirim kesana atau istilah hebatnya “dibuang”…hehehe…sampai acara selesai dan pulang ke jogja pun tak ada yang berkesan dengan dirinya bahkan bicara langsung aja belum pernah, hanya saja temenku ada yang ndeketin dia dan aku tahu “oh..itu lho yang namanya adel. Cuma itu aja!!!kecil, jilbab, dan tempat duduknya di bus agak depan. dah itu aja!!! Dia juga sepertinya g kenal aku….hahaha…Udah…itu aja..mandeg sampai disitu…

waktu berlalu, dan kami pernah bertemu lagi, di primagama saat try out aku liat dia lagi, dia juga liat aku..kita saling melihat dan mengingat ingat wajah yang familier tapi tak juga menyapa…tapi cuma tahu klo aku pernah satu bus ama dia pas pertukaran belajar, zink….tidak terjadi apa – apa..

---------------------------------------------------------------------

waktu terus berjalan…

Sampai saatnya aku memasuki bangku kuliah. Aku udah lupa dia…dan tidak pernah berpikir akan bertemu dengan dirinya lagi, mungkin si adel juga iya…hehehe…

---------------------------------------------------------------------

semester lima, baru kejadian yang tak terduga datang. Kejadian tak terduga di tempat yang tak terduga pula, dengan skenario yang tak terduga pula.

Mie ayam pogung

Tiga wanita membelakangiku, mereka menghadap ke jendela yang di luarnya terhampar luas area persawahan. Nampak indah memang, jika melihatnya diwaktu usai hujan, dan sunset tidak malu menampakkan dirinya. Nampaknya mereka sedang kelelahan, kewalahan menanggung lelah namun mulut dan raut wajahnya betah sekali dengan kegembiraan pengalaman yang baru dialaminya, ceriut mulut – mulut mereka yang seru banget bercerita menunjukkan mereka masih ingin melawan lelah. Melihat barang – barang yang mereka bawa, aku menduga mereka usai mendaki gunung, merapi mungkin!.

Satu dari tiga wanita itu menoleh kebelakang, tanpa sengaja wajahnya menghadap kearahku, dan aku melihat wajahnya. Familier, dan aku mengenalnya, spontan mulut keramahanku berpijak “nisa…!!”. “eh..mas Andy, sendirian mas?”". “Iya, sendirian, dari mana de?”. Dua wanita lainnya kemudian menoleh ingin melihat siapa yang berbicara dengan temannya. Nisa menjawab“dari naek gunung mas, kegiatan kampus, nyari anggrek!”. Setelah jawaban nisa, AKu pun melihat wajah kedua temannya dan terkejut, spontan mulutku nyletuk,…”nisa…bentar – bentar!!” sambil menunjuk satu temannya.”ini, teman angkatanmu?” “bukan mas…”. “kakak angkatanmu?”. “iya, mas..” “angkatan 2006?” “iya mas” “namanya adel bukan?”.Semuanya terbengong, yang aku tunjuk juga terbengong. Mungkin dia berusaha mengingat – ingat aku (tampilanku waktu itu beda banget dengan tampilanku sma). zing…………….sunyi sesaat…Kemudian aku tersenyum, “adel..ne andy, temen pertukaran pelajar pas SMA!!, masih inget??” padahal aku menahan malu, coz takut dia g kenal, dan aku sok kenal, kan malu, hehehe..

”eh…andi…Ya Allah, iya…andi..aku inget..andi yang dari SMA 1 itu to!!”..Nah..lega dech, aku g jadi menanggung malu. sampai waktu ini, akhirnya suasana cair, dan kita ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon. sampai mie kita habis, bahkan aku juga sempat menyinggung temenku yang dulu PDKT ma dia, eh ternyata masih sering berkomunikasi dia.

--------------------------------------------------------------------

Dari mie ayam itulah cerita kita berawal, cerita kita mulai ditulis dalam lembaran hidupku, menambah warna tinta baru dan tinta itu sering banget aku gunakan untuk menulis lembar demi lembar.

--------------------------------------------------------------------

Banyak kejadian yang kita alami menjadi kenangan tersendiri, baik bisa menjadi cerita konyol diwaktu – waktu mendatang maupun cerita haru biru saat saat esok. Pernah suatu saat kita saling tukeran ngerjain laporan praktikum, hihihi…ceritanya pas itu aku lagi males banget ngerjain laporan praktikum, nah…aku sms dia, bosa – basi speak – speak nanyain kbar, lagi sibuk g, dan other bosa – basi lainnyya.. setelah beberapa kali sms, aku mengeluarkan trik jitu, berkeluh kesah…hehehe..Lupa aku gimana awalnya, tapi intinya gini

huff…capek banget e del, bosen ma laporan, kaya nulis nyalen master aja, padahal nilainya cuma satu sks. Adel juga sibuk nulis lap ya?

Ndy, aq pengen nangis bc blog km..mksi yah, mksi bwt smwy…Gda shbt aq yg bs gntiin posisi km ndy…adel seneng km bs tsenyum lg, ud bs dpetin ‘hikmah’ dr smwy..

--------------------------------------------------------------------------

cerita ini aku buat, sebagai rencana saat ulang tahunnya, namun karena bencana merapi yang lalu, cerita ini tak terselesaikan.

Saat ini , dia sedang marah kepadaku, mungkin karena janji- janjiku yang belum aku penuhi, serta bahasa sikap ku yang berbeda.

Adel, andy minta maaf ya….ku tak mengerti aku yang dulu seperti apa, dan kini harus bagaimana. Andy minta maaf, yakinkanlah pada dirimu bahwa aku akan selalu ada, sebagai sahabatmu entah seperti apa posisiku.

Yang lalu, tepatnya 7 november 2010, dia berulang tahun. Aku tahu kau merasa sedih, karena aku tak bisa memberikan kejutan untukmu. karena aku tak bisa hadir seperti kalian berdua hadir dalam susahku. maafkan aku ya del! tapi percayalah, doaku selalu ada untukmu, tak hanya di hari ulang tahunmu, sepanjang ku ingat lima waktu, setelah itu doaku terlantun untuk kesuksesanmu. MET ULANG TAHUN YA DEL….jadilah adel yang kuat dan berjuang penuh semangat!!jangan sendu ….

semoga ini bisa menghadirkan ceding senyummu yang telah lama hilang. Mekarlah!!!!

Thursday, November 25, 2010

Tertidur senikmat lama.. tapi enggak lama…

satu jam saja!

__________________***___________________

Berisik suara plastik bercampur suara sobekan kertas mengusik indraku yang masih terkapar. Dengan sangat terpaksa, aku bangun, terbangun tepatnya!. Mulanya duduk, lalu berpikir sejenak, menggabungkan pecahan-pecahan ingatan tentang kejadian semalam hingga semua terakomodasi lagi dalam meilin – meilin dendritik otakku. Siaga, waspada, dan cekatan kembali merasuki ragaku. Langsung keluar dari kamar itu, di luar sudah terpampang tenda megah seperti tenda tentara, penuh dengan orang dan alat – alat dapur di dalamnya.

Di koridor bagunan tempat aku tidur, kutemukan biang keladi pengusik indraku, mereka dikumpulkan dalam meja yang entah darimana datangnya, dikerumui para orang dan dimasukkan satu persatu dalam plastik. Dialah snack !!!

Pelan - pelan aku mengamati, semua orang sibuk dengan aktivitas yang mungkin tanpa disadari, semrawut, bingung!Harus ngapain dan bagaimana? nampak sekali, mereka tak tahu kerja namun harus bekerja, tepatnya mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Acak teracak semua, acak – acakan!

__________________***_____________________

Setelah mataku bereksplorasi, beradaptasi, dan berinteraksi, akhirnya aku menemukan satu orang, wanita, yang nampaknya menjadi otak dari semuanya. Duduk di pojokan tenda, sambil berteriak mengatur lainnya, teriakannya nampak seperti mengatur, namun tak mampu menguasai kepanikan dan emosinya, hingga akhirnya orang yang pertama kali melihat gelagatnya akan menyimpulkan dia itu lagi membentak, dan marah. Saat itu aku masih terpaku, dan pakuan ku lepas akibat bau nafas mulutku. Ku putuskan untuk gosok gigi sekalian mandi terlebih dulu.

Wanita itu dalam pengejawantahan karya otakku, disebut “Si Mandor”.

Tak perlu aku bercerita tentang aktifitas mandi. Kali ini mandiku masih tetap sama dengan mandi – mandi yang lalu, mandi bebek. Setelah mandi, cekatanku bekerja, membantu mereka membungkus snack. Pelajaran pertama di hari pertamaku jadi relawan; untuk membungkus snack, dibutuhkan sistem one people one work agar lebih cepat selesainya. Dari sini, aku mengenal empat kawan, namun satu yang tercantel namanya di otak, Belinda.

Belinda….

Tinggi, berjilbab, dan hitam berkacamata. Manis? bolehlah aku katakan dalam tulisan ini. Selebihnya, belum mampu aku difinisikan lagi saat itu, namun dalam perjalanan perjuangan, satu – satu akan terdifinisikan tingkah dan wataknya.

--------------------------***---------------------------------

Kita mulai tertawa dan bercerita. Tangan kami? tetap bekerja. Usai sudah snack terbungkus, Tujuh Kardus terpenuhi snack, dengan jumlah total dua ribu. Si mandor mendatangi kami. Tak bisa tersenyumkah dia?batinku. She said with indonesian langue, “saya butuh 4 orang untuk menjadi penanggung jawab dapur umum, pertama koordinator gudang, tugasnya paling berat, siapa yang bersedia?”. Sejenak diam semua, tapi cekatanku melawan, langsung terlontar kata bisa dari mulutku. Si mandor pun mewanti – wanti, kerja nya berat. Dia menjelaskan kerjaku, mencatat barang keluar masuk, namun tak memberikan teknis bagaimana aku bekerja. Nama dan No HP ku telah tercatat di kertasnya, sebagai bukti bahwa jabatan baru telah di emban. Sejak saat itu, panggilanku bukan lagi andy, tapi Gudang gudang!!!!. Aku tak menyimak siapa tiga orang lainnya dan apa saja tugasnya, karena aku langsung diinstruksikan untuk menstock nasi bungkus di koridor, bekerja tanpa ada kesempatan bertanya, gambaran secara rinci bagaimana cara kerjanya. Ironis!

Kebingungan!!!

Nasi bungkus datang bertubi – tubi. Setiap datang, berwadahkan trash bag maupun kardus, puluhan sampai ratusan, dan harus di hitung!!!. I need partner!!!! Di sini aku mengenal kata , relawan. Aku memohon tolong kepada teman – teman yang ada disekitar untuk menghitung. sementara aku mencatat, dan mencarikan tempat untuk menampung. Mulai saat itu juga, secara resmi, kamar tidurku berubah menjadi gudang nasi bungkus, tepatnya diresmikan seperti ini, UKM PERISAI DIRI telah berubah fungsi menjadi gudang NASBUNG, tertanda penguasa ruangan perisai diri, Andy Eko Wibowo.

Tercatat sampai pukul sepuluh siang, telah ada dua ribu tiga ratus lima puluh nasi bungkus. Penuh sekali GUDANG NASBUNG untuk menampungnya. Aku membutuhkan perluasan area, secara cepat UKM Merpati putih juga berubah fungsi menjadi Gudang NASBUNG Dua. Tak ada peresmian kali ini, hanya saja memohon ijin kepada sang penguasa ruangan yang notabenya sama saja seperti aku, jadi relawan.

Aku tak peduli dengan siapa saja orang - orang yang ada di dalam tenda dan apa yang mereka kerjakan. Semakin lama Kebingunganku bertambah. Ternyata tak hanya Nasbung yang datang di gudangku, macam – macam sembako ikut masuk, gula, teh, beras, telur berkrak – krak, bumbu – bumbu dapur, kecap, buah – buahan, bermacam – macam snack, dan semua barang yang berhubungan dengan perut manusia, masuk semua ke gudangku. Catatanku kacau, tak mampu ku perbaiki, karena awalnya hanyalah nasbung saja yang tercatat. Banyak catatan yang hilang, tercecer, dan tak tertata. Satu kata untuk kekacauan ini, Jan Coooek…..!!!!!

Perluasan area gudang kembali terjadi, kini UKM Inkai aku ubah menjadi Gudang Penyimpanan bahan – bahan non Nasbung. Meskipun demikian tak semua tertampung di dalamnya, Lima karung beras, tiga krak telur, berbuntel – buntel tempe, dan bahan sayur – mayur masih menongkrong di koridor. Bukan karena tak tertampung, tapi tak punya keinginan memasukkannya. Lebih tepatnya tak punya waktu untuk urusan ini. karena urusan nasbung masih menyibukkan tenaga kami sehingga tak sempat terpikir untuk memasukkannya. Bagaimana dengan catatan jumlahnya selain nasbung??

Asu!!! Jika ada orang yang masih sempat –sempatnya mencatat keberadaaan semua barang – barang yang ada di koridor, sementara kesibukan pekerjaan tak selesai – selesai. Namun lebih tak berperi keasuan lagi, jika pada akhirnya ada orang yang hanya bisa memarah – marahin semua yang telah aku kerjakan, meskipun kerjaku tak beres. Hal ini akan terjadi nanti, dan membuatku benar – benar jatuh mental.

Sekitar jam sebelasan, si mandor datang menghampiriku. Dia bertanya padaku,“ Berapa nasi bungkus yang ada di gudang?”. Ku buka catatanku, karena hitunganku masih ada yang belum aku total, maksudnya masih dalam jumlah barang per tiap masuk gudang, maka aku harus menghitungnya. Agak menyentak, “Cepetan!!!ini kondisi darurat, klo kamu lemot kaya gini, kapan selesainya!!!”. Diam tak ku tanggapi, justru sentakkannya memperlambat hitungan. “Tiga ribu dua ratus lima puluh nasi bungkus!” jawabanku meskipun belum selesai. “Berapa yang cepat basi, dan berapa yang bisa bertahan lama?”. “ G aku pisahin!!!”. “Sekarang kamu pisahin!” perintah si mandor sambil berbalik menuju tenda hijau yang kini aku tahu bahwa itu adalah dapur umum pengungsian.

Shock, dongkol di perintah seenaknya, namun tetap saja bercampur dengan rasa ingin mengerahkan tenaga untuk meringankan penderitaan pengungsi. Untung saja, banyak teman – teman yang masih ada disini membantuku, meskipun banyak dari mereka yang belum aku kenal. Aku berusaha mengerahkan mereka namun dengan caraku. Sebisa mungkin bukan perintah yang aku keluarkan, tapi memohon bantuan! Namun akhir – akhir ini aku sadari, terkadang nadaku, kepanikanku menimbulkan seruan lebih condong ke perintah daripada memohon tolong. Maafkan aku ya teman – teman!!

Setengah jam kemudian, kami mampu menyelesaikan tugas dari Si Mandor, dua ribu empat ratus tujuh puluh lima bungkus yang diperkirakan akan basi jika tidak dimakan siang ini. Sisanya bisa bertahan sampai malam. Segera aku berlari menuju white board yang tersedia di dalam tenda, Aku tuliskan di white board:

Nasi bungkus basi : 2475 bungkus

Nasi bungkus bertahan : 1775 bungkus

Setelah itu aku kembali ke UKM alias gudang, atas inisiatif sendiri, aku pisahkan nasi yang belum basi ke UKM Merpati putih dan nasi yang akan basi tetap di UKM PERISAI DIRI. “ Gudang, gudang!!!!!!gudang kesini!!!!” Teriakan keras, lantang, sedikit tempramen dari dalam tenda, siapa lagi kalo bukan si Mandor. “segera aku berlari & terburu - buru menuju tenda,”Iya?”. “Berapa nasi yang basi?”. Aku menjawab “ G ada!”. “lha terus, itu!yang kamu tulis?” sambil menunjuk white board. “. langsung saja, dia nyrocos, “klo nulis yang bener, klo kamu nulisnya kaya gini, bikin aku panik, kerja yang bener dong!”. “Sori mbak!!sori!!” aku berusaha meminta maaf sambil berjalan ke arah white board dan menambahkan kata hampir ditengah kata bungkus dan basi. Sekarang kamu suruh anak buahmu !siapkan nasi bungkus untuk makan siang!”. Jlep..ANAK BUAH!!!!Sial banget, dia nganggep relawan anak buah, sekarang bener – bener tahu, dia memang mandor dadakan. Bukan karena suruhannya aku mau melakukannya, tapi karena aku masih punya keyakinan, tanpa adanya si mandor, semuanya akan lebih kacau. “Berapa mbak jumlahnya?”.Dengan nada kesal dia mulai berceracau memarahiku lagi, “kamu tadi ngeluarin snack berapa?, ya itu yang kamu keluarin!, cepetan, pengungsi sudah kelaparan, setelah selesai, kamu lapor ke aku, berapa nasi bungkus yang dikeluarin! dan kita kasih makan relawan!”. Ku lakukan perintahnya dengan dongkol dan penuh semangat, grundel dan macam – macam pisuhan dalam hati.

Selesai!

Ku berlari menghampiri si mandor. “Gudang!!!!kamu jangan lari – lari kaya gitu, buat semua orang panik!santai aja kenapa!!”. Anjrit….kayanya semua yang aku lakukan salah. “sori mbak, nasi buat pengungsi udah.Relawan belum. Berapa yang harus di keluarin dari gudang?”. “sebentar!”. sambil mengambil brik dari atas meja. Aku kembali ke gudang, karena saat aku tinggal, banyak kiriman nasi bungkus yang datang, bertambah ,dan terus bertambah. Agak keras dan terpancing emosi aku berkata kepada temen – temen “Sebentar temen – temen! sekarang aku minta dua orang buat ngecek dulu sebelum dimasukin ke gudang, nasi ini kira – kira basi g sampai malem, jika basi masukkan ke Merpati putih, klo G , masukin ke Perisai diri!, siapa yang mau?”. bingung saling menunggu!!

Aku mengubah cara mengerahkan teman! “kamu, kamu tugasnya ngecek nasi bungkus yang bau! lainnya masukin nasi bungkus setelah di cek!!”. mereka langsung kerja.

ternyata cara mengerahkan seperti ini lebih efektif.

Dari sini, aku mendapat Pelajaran tentang watak pekerja indonesia nantinya. Jangan memberikan kesempatan mereka untuk mengambil suatu tugas, karena mereka akan berpikir dan bimbang apakah harus diambil atau tidak, bingung!!!! tapi akan efektif jika langsung menugasi mereka.

Jiwa demokrasi nampaknya lebih sulit tertanam pada segenap jiwa mereka, karena mungkin pola pikir kita sudah tertanam akan kediktatoran pemimpin negeri ini selama bertahun – tahun hingga menurun ke generasi ku.

Akhirnya relawan pun terisi perutnya, kini tinggal kami, anak dapur umum yang belum makan. Saatnya makan!!!

Kami mengeluarkan makanan untuk kami, sesuai prosedur, tetap dihitung keluar dari gudang. Kami bagikan ke anak – anak gudang terlebih dahulu, setelah itu kami bagikan ke anak – anak tenda dapur. Suara teriakan memanggil dari si mandor kembali terdengar.”Gudaaaannnggg….!!!Gudaaaangggg….!!!”. Berjalan cepat aku menuju tenda, belum sampai aku masuk ke tenda, udah disemprot plus tatapan sinisnya, “siapa yang suruh bagikan makanan ke kita?kamu klo belum aku instruksikan jangan seenaknya, bisa kacau nanti!!”. Kali ini aku membela sedikit emosi, “Kita juga laper mbak!!tugas udah selesai, kasihan mereka, klo juga belum makan!”.”siapa bilang tugas udah selesai?”, nadanya lebih tinggi dariku, semua orang di dapur melihat kami, mereka terbengong – bengong, diam menghentikan semua aktifitasnya. Aku sadar akan emosiku, aku turunkan nada, aku rendahkan, aku bicara halus.”mbak,,,,iya, memang tugas aku g tau selesai belum, tapi ini sudah jam satu lebih, kita makan dulu yuk..kasihan temen – temen…!, saran aja mbak, aku akan slalu bantu mbak, apapun kondisinya, tapi nadanya di haluskan sedikit ya, itu mempengaruhi kinerja.!!”. Dalam hati, aku berkeyakinan bahwa maksud dia juga baik, semua yang dia lakukan, demi berjalannya kelangsungan pengungsi. Hanya saja, mungkin? jiwa kepemimpinan belum termanagemen dengan baik dalam dirinya, tapi aku yakin, tanpa dia, tak tahu apa yang terjadi. Dia diam, agak malu mungkin, “ ya udah, kita makan dulu, habis makan kamu kesini, laporan ke aku berapa jumlah nasbung yang tersisa!!”. suasana slow. Jika difilmkan, mungkin aku akan berbalik membelakangi dia, dengan semilir angin mengibas – ngibaskan rambutku saat keluar dari tenda menuju gudang, dan daun daun atau apapun yang bisa terkena angin disana berterbangan.

Makan pun serasa enak, meskipun dibawah tekanan, bukan tekanan si mandor, tapi tekanan melihat kenyataan bahwa merapi saat itu murka. Tanggung jawab kami!!! memberi makan seribu empat ratus pengungsi dan empat ratus relawan tiap harinya.

Pagi ini ku terbangun, menatap langit yang masih samar , bernama langit matahari terbit, ..

Aku merasa hidupku tak berarti lagi jika melihat dua minggu lalu, hidupku nampak selalu bermanfaat bagi diriku maupun orang lain (Menurutku!!)…

kehilangan pekerjaan……

-----------------***-------------------------

Dua minggu lalu…,

5 november 2010 Jam 00.00, Gelanggang, Gadjah Mada

Gemuruh gaduh, suara layaknya gluduk berkepanjangan (tapi bukan!) membuat otak selalu berstimulus tak henti berpikir, Rasaku tak juga birahi, untuk melawan rasa takut. Adrenalin menyatakan “waspada saja, tak harus memasang kuda – kuda, namun tetap waspada dalam pembaringan!”. Kadang ku bertanya, “apa yang terjadi disana?”

Entah! aku pernah terpejam atau selalu waspada pada waktu itu.

Langkah terburu – buru mendekati ruangan dimana aku terbaring, berlari lebih tepatnya, lalu dengan cepat menggedor pintu ku, “udan pasir!! udan pasir!! ayo metu! nganggo helm! ewangi awak dewe! pengungsi arep teko mrene,..!!!”. Jenggirat aku dari pembaringan, tergopoh – gopoh keluar mencoba bertanya kepada orang yang menggedor pintuku, tapi, tak pernah terlontar karena sudah keluar, berlari untuk menggedor pintu – pintu lainnya.

Di luar, sudah sibuk orang berlalu lalang, anak – anak komunitas gelanggang dominan. Ada yang sibuk berlari membawa terpal menuju Hall gelanggang, sebagian lagi membagikan masker. Ku hampiri pembagi masker, sambil meminta masker kutanyakan apa yang harus dilakukan. Sebelum tanyaku selesai, dia sudah melontarkan perintah yang bernada terburu – buru tapi tetap menguasai diri, tidak panik.“kowe njukuk o helm, sedelok meneh udan pasir, tulungono cah – cah nyiapke enggon, delok meneh pengungsi teko rene! Gelanggang arep didadeke pengungsian!” Mendengar perintah itu, sikap cekatanku timbul, berlari menuju parkiran dekat kafetaria, langsung helm aku ambil dari motorku.

Mengikuti lalu lalang manusia untuk mempersiapkan area hall, menggelar terpal biru.

bukan tenda biru!!!!

-----------------***-------------------------

Setengah jam sampai satu jam setelah pintuku di gedor.

Sirine berbunyi mengeras mendatangi arah kami, memekakan teilinga, aku berlari menuju lobi gelanggang, melihat apa yang terjadi. sebentar saja aku heran, kenapa sebuah bus jurusan tempel mempunyai sirine?. Rasa heranku secara cepat hilang ketika melihat banyak orang sekujur badan berlumur lumpur menghambur keluar dari bus itu. Rambutnya tak nampak hitam lagi, penuh lumpur bercampur pasir. Tak sampai semenit aku terheran – heran, aku ditarik oleh wanita yang tak asing wajahnya, namun tak mengenal nama. Kali ini dengan bahasa Indonesia, kedua tangannya menceneng dua lengan, satu lenganku, satu lengan orang lain, entah siapa. “Tugas kalian adalah mengarahkan pengungsi umum ke Hall Gelanggang, lalu pengungsi lansia, balita, wanita, dan yang sakit di Ruang sidang II!!” Segera kami iyakan. Kami mulai mengarahkan, Celakanya, kebanyakan dari mereka tak menanyakan apa yang kami arahkan, justru menanyakan kamar mandi!!!

Pelajaran pertama bagi para frontliner dimanapun berada, ‘Jika ada tamu tubuhnya tidak standar bersih dan nampak terburu – buru, janganlah anda tanyakan kepada mereka apa yang ditugaskan oleh bos anda, segera saja arahkan mereka ke kamar kecil.

-----------------***-------------------------

Mata mereka merah!!

Ku pikir tugasku ini tidak efektif, segera aku limpahkan ke orang yang di ceneng tadi, aku berlari ke UKM taekwondo, membangunkan tubuh yoyok yang ternyata belum bangun, dan segera menghidupkan komputer. Aku ketik dengan cepat, WC sambil diberi anak panah di bawahnya, aku ketik dengan font ukuran 99 . Aku print dengan mode faster sejumlah belasan. Dengan “yak – yakan” mencari kertas HVS dan spidol, ku tulis pada HVS itu, ‘PENGUNGSI UMUM’ dengan arah panah dibawahnya, dan satu lagi di lembar berbeda ‘LANSIA, BALITA, IBU HAMIL, dan SAKIT’ dengan arah panah lagi, aku tak tahu berapa lembar jumlah terbuat.

Sebelum selesai printnya , aku bawa hasil kerja yang sudah selesai. Kusaut double tipe yang untungnya ada di meja, dan berlari menuju tempat kerjaku. Entah siapa dia? aku memohon bantuan untuk menempel lembaran kertas tadi di dinding – dinding yang telah aku tunjuk. “itu , itu, itu, itu…..!, yang ini biar aku!”. Pada saat ini, mobil entah apa saja jenisnya, bus, truk, kol, dan bego (yang ini boong!) berdatangan seperti terburu – buru. Selalu saja orang sejenis yang keluar dari bus itu.

Setelah kendaran berhenti, berhamburanlah orang – orang yang ada didalamnya, Keluar menuju arah ku!

Selesai….!aku menempel tanda – tanda itu. Namun nampaknya sia – sia!. karena semua orang terburu – buru, sehingga mereka masih tetap bertanya kepada kami, “ WC ten pundi geh mas?”

Akhirnya aku sadar kesalahanku…

mata mereka memerah terkena abu, jangankan membaca, melihat sekitar saja sulit sekali…

Apakah dosa kita terlalu besar

Hingga hari dimana bumi dan gunung berguncangan datang begitu cepat

Hingga gunung – gunung itu mengembang

bulu dari gunung itu berterbangan layaknya bulu ayam

hingga akhirnya menjadi tumpukan pasir

Doaku , Tuhanku, Tuhan Esa semesta Alam, Maha Besar

belum saatnya……….

belum waktunya….

belum tiba masanya….

gunung itu Kau hancurkan sehancur – hancurnya

namun Kau Maha Tahu….

(Renungan Al qur’an surat Al muzzammil ayat 14 ; Al Ma’aarij : 9; surat Thaahaa Ayat 105; )

masih bersujud……….

malam semakin “pagi”

Jelas!!!pada hari itu…

awalku untuk menyambut para tamu.

Karena aku? seorang tuan rumah

rumahku?

Gelanggang Mahasiswa UGM.