Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Saturday, December 31, 2011

cover catatan gadjah mada copy

 

Sesungguhnya bukan merupakan buku, hanya sebuah catatan yang dapat di jadikan sebuah inspirasi bagi para calon pemimpin.

“Setiap pemikiran satu manusia berbeda dengan pemikiran yang lain, siapa yang manusia? Adalah yang bisa menghargai pemikiran yang berbeda dengan pemikirannya dan mencoba untuk menggunakannya sebagai pembuka wawasan dalam tujuan hidupnya, yakni mengabdi untuk kemaslahatan umat manusia”

Catatan -perjalanan saya di bandung- ini sengaja saya munculkan akhir tahun 2011 sebagai bahan renungan kawan – kawan para calon pemimpin untuk memunculkan perubahan – perubahaan yang harus dilakukan di tahun 2012. Mengapa harus di akhir tahun 2011 ataukah aku ini juga salah satu manusia yang merayakan pergantian tahun baru? Bukan demikian, dalam kata pengantar ini saya sekaligus ingin mengajak dan membuktikan kepada kawan – kawan bahwa tidak sedikit orang yang menggunakan momen akhir tahun ini sebagai waktu untuk menuliskan impian – impian yang akan dicapai di tahun selanjutnya, merenungi apa yang telah dilakukan selama satu tahun ini, serta pencapaian apa yang telah dilakukan. Orang – orang yang tidak sedikit ini, tidak menggunakan waktu tahun baru untuk keluar bersenang – senang dan sejenisnya melainkan mentafakuri kejadian satu tahun lampau serta memulai hal yang akan dilakukan satu tahun kedepan. Dan mengapa harus tahun baru masehi? Karena orang – orang yang tidak sedikit ini, lebih sering menggunakan kalender masehi daripada jenis kalender lainnya dalam kehidupan sehari – hari. (namun sungguh!!! mohon maaf jika ternyata pendapat orang yang tak berilmu agama ini membuat luka para orang yang berilmu agama, red)

Terlepas dari semua itu, semoga Catatan ini dapat membuat malu saya dihari tua serta mengajak para pembaca untuk segera menuliskan idealisme – idealisme yang ada saat ini sehingga anda akan ikut malu bersama saya ketika membaca tulisan itu di hari tua. Mengapa malu? Mungkin karena kita tak bisa mewujudkannya atau mungkin karena masih banyak idealisme yang tak tercakup dalam idealisme yang telah diwujudkan. So…kemaluan mana yang akan terjadi!!Tuliskanlah dan nantikan kemaluan itu dalam sepuluh tahun kedepan.

Yogyakarta, 31 Desember 2011

Andy Eko Wibowo

 

bagi yang ingin membacanya dalam bentuk ebook saya persilahkan download  disini (karena 19 halaman), namun jika ingin membaca via blog silahkan , saya mulai disini…

 

Dear kawan pembaca....

Cerita pertamaku dalam visi baru, peneliti, pengajar, dan pengabdi. Ternyata berawal dari suatu daerah yang tak disangka - sangka, Bandung. kali ini cerita dari perjalanku sebagai pengabdi. Suatu pertanyaaan untukku, dan untukkmu, Pengabdi?? Pengabdi untuk siapa? Sementara di sepanjang perjalananku, ribuan mobil mewah membuat kota ini macet. Sudahkah benar, apabila negeri ini di penuhi orang - oragn miskin seperti di berbagai media massa itu? Sudahkah aku layak, untuk mengabdi sementara ribuan mobil mewah itu saja tidak mampu menghilangkan orang - orang miskin? Apabila mungkin aku memang layak, maka sudahkah tepat, jika aku dengan sendirian berjuang mengabdi, sementara mobil - mobil itu hanya sedikit yang berbagi untuk mengabdi?(Ups..maaf jikalau salah...namun nyatanya ribuan mobil mewah tidak bisa menghilangkan orang miskin). Aku sendiri??mengabdi?? Untuk membawa perubahan?? Lupakan!!!!

Di tengah - tengah tulisan ini, angkot bergerak melaju menembus kemacetan atau dengan kata lain bergabung bersuka ria dengan kemacetan. Aku ingat dengan idealisme kawan- kawanku, pembicaraan mereka saat di warung burjo. Ada yang ingin membuat yayasan sosial, ada yang ingin membuat industri dengan pekerja kaum - kaum pengangguran, ada yang ingin membuat panti asuhan, dan semuanya ber menu sosial. Aku??sebagai pendengar, hanya bisa beroh ya...oh ya...saja, mengikuti apa yang mereka bicarakan. Hanya sebatas pembicaraan keinginan yang mulia. Pembicaraan mulia atas nama warung burjo, tepatnya. Melihat kegiatan keseharian yang mereka lakukan, nampaknya idealisme itu dalam beberapa tahun ini akan menjadi nyata bagi mereka yang mengatakan, atau justru terlupakan dan dianggap hanya sebatas pembicaraan?? Setidaknya mereka pernah berbicara, demikian pula aku, hanya sebatas bicara. Mungkin apabila direnungkan, banyak sekali hal yang keluar dari mulut kita, tentang hal - hal yang semuanya mulia, namun sayang sekali, hal itu hanya keluar dari mulut kita dan berbentuk angan - angan yang akan terlupakan seiring berjalannya waktu dan kesibukan kita. Kenapa???Karena itu semua tidak dibarengi dengan perwujudan atau dengan kata lain, "mulai sekarang,mulai dari yang kecil!". Aku pun demikian, dalam perjalanan dengan visi misi yang baru, tujuan saat ini mencari apa yang harus menjadi bahan pengabdianku, mencari, mencari, mencari, dan mencari.

Pikiranku terhenti, bersamaan dengan masuknya anak usia smp berpakaian kumal sekumal pakaian yang aku kenakan, mungkin lebih kumal lagi. Oh iya, kali ini aku memang sengaja menggunakan pakain yang kumal dengan celana yang biasanya digunakan untuk "ngarit". Perjalananku kali ini terinsiprasi oleh perjalanan - perjalanan yang dilakukan pembesar - pembesar tempo dulu, Empu Prapanca, ataupun Sinuhun Hamengku Buwono IX.

Anak itu menyanyi, ups...jauh dikatakan apabila anak itu menyanyi, suaranya parau, lebih buruk daripada suaraku. Memang, dimanapun adanya anak ini, memang cocok untuk menjadi bahan pengabdian. Aku tulis dalam poin pertama bahan pengabdian, "anak - anak jalanan".mungkin, point pertama ini juga sebagai pengobat kekecewaanku, tidak masuknya aku dalam team pengajar muda Indonesia mengajar hasil garapan Anies Baswedan. Aku lebih realistis melihat kenyataan bahwa sepertinya sayap wawasan jelajah untuk berkembang dan menjangkau indonesia harus tertahan, mungkin sampai nanti ketika aku menjadi dosen. Untuk saat ini biarlah aku menjadi pengajar Muda untuk daerahku sendiri. Sebenarnya, posisiku di Bandung ini sangat memancing untuk melihat pergerakan nyata pemuda yang ada di Bandung. Namun sepertinya hal ini belum menjadi kenyataan, aku tak mampu menemukan teman pemuda yang bergerak dalam bidang serupa.

Oh iya kawan, kalian sudah tahukah, tenang problema munculnya anak - anak jalanan? Problema yang ada itu hanya satu, yakni pola pikir. Pola pikir sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Namun penyebab pola pikir yang identik dengan mengemis, mengamen itu berbagai macam kawan. Penyebab utama adalah lingkungan. Lingkungan bagi anak dianggap sebagai sumber panutan menentukan karakter mereka. Maka, apabila ada anak seusia smp dan sma berada di jalan, ada 2 kemungkinan, yang pertama karena dia merasa frustasi dan tertekan di lingkungan sehingga dia memilih untuk hidup di jalanan yang penuh dengan kebebasan. Yang kedua adalah anak anak seumuran SMP dan SMA itu sejak kecil hanya diajari oleh lingkungannya terutama orang tuanya mengamen dan mengemis dengan dalih membantu pekerjaan orang tuanya. Akibatnya sangat fatal kawan, pola pikir mereka akan sangat sulit diubah karena sejak kecil pengetahuan dan keterampilan mereka untuk memenuhi perut dan kebutuhan sehari - hari hanyalah mengamen dan mengemis.

Dengan tahunya problema tersebut kawan, permasalahan anak jalanan tidak hanya dapat di pandang menggunakan mata ekonomi, namun harus secara global yang meliputi pendidikan, sosial, psikologi , dan berbagai aspek lainnya. Untuk menjelaskan persoalan ini, maka ada sebuah permainan perlawanan kata bagi kalian, para pembaca. Aku dapat juga dari Cak man yang sudah aku anggap sebagai bapakku. Oke...aku beri suatu pertanyaan, kalian menebak...

Permainan Lawan Kata (antonim)

Allah membuat kita tertawa dan ....................?

Allahlah yang mematikan dan.......................?

Allah lah yang menjadikan kita pria dan...............?

Allah juga yang membuat kekayaan dan .................?

pertanyaaan yang gampang bukan kawan? Tentunya kalian bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan mudah. Lawan kata tertawa adalah menangis, lawan kata mematikan adalah menghidupkan, lawan kata pria adalah wanita, dan lawan kata kekayaan adalah kemiskinan.

Eits...tunggu dulu, jangan senang dulu kawan....mari kita cocokkan dengan literature kita, literature semua umat manusia, Al - Qur'an. Apabila kita umat islam, maka kalian harus percaya isi - isi yang ada didalam al-qur'an, apabila kalian tak mempercayainya, maka kalian telah meragukan salah satu rukun iman. Sedangkan orang yang meragukan rukun iman maka dia sudah kehilangan satu sokongan/ satu kaki dalam menegakan agamanya, yakni islam, iman, dan ihsan. Jadi, apapun yang ada dalam kitap suci Al-qur'an kita harus mempercayainya dan memaminya, termasuk juga surat An Najm ayat 53-58. Mari, kita buka satu persatu ayatnya.

43. dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

benar, jawaban kita pertama adalah benar, ternyata lawan kata tertawa adalah menangis. Mari kita ke ayat selanjutnya...

44. dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

Benar, jawaban kedua kita juga benar, lawan kata mematikan adalah menghidupkan.

45. dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.

46. dari air mani, apabila dipancarkan

47. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),

Sekali lagi kita benar, bahwa lawan kata pria adalah wanita. Ayat 46 sampai 47 merupakan penjelasan dari ayat 43-47. Kita lanjutkan mencocokkan jawaban yang terakhir yang secara logika kita, apabila ayat 43-45 benar, maka ayat ini juga menjawab bahwa lawan kata kekayaan adalah kemiskinan.

48. dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,

ternyata kita salah kawan, Allah memberikan jawaban yang berbeda dalam lawan kata kekayaan, bukan sebuah kemiskinan, namun ternyata Allah memberikan kecukupan. Jadi, selama ini, ternyata kita sendiri lah yang menganggap bahwa Allah menciptakan orang yagn miskin, dengan kata lain, kita sudah su'udzon terhadap Allah. Bahwa ternyata Allah menciptakan manusia itu ada yang diberi harta berlebih namun Ia tidak menciptakan manusia memiliki kekurangan harta, Ia memberikan manusia cukup untuk hidupnya, bukan kurang. Lantas, siapa yang membuat kemiskinan??ternyata diri mereka sendiri, bukan Allah. Dan Kemiskinan itu dapat disimpulkan dari sikap mental manusia itu sendiri, bukan karena Allah. Jadi, untuk mengabdi, yang harus ditanamkan pada pikiran kita sendiri adalah bukan mengabdi kepada orang - orang miskin, namun mengubah mental orang - orang yang merasa dirinya miskin menjadi mental kecukupan. Itulah yang harus ditanamkan didalam diri kita sendiri sebelum kita berangkat menuju medan pengabdian, bahwa di dunia ini, tidak akan pernah bisa kita mengatasi kemiskinan, namun kita harus mengubah mental orang - orang yang merasa miskin menjadi berpola pikir kecukupan.

Maka kesalahanku lah yang pada waktu lalu sangat menggebu - gebu dan optimis dalam mnyeelsaikan masalah anak jalanan, cerita ini dapat dibaca dalam blog, dengan judul “Janjiku tanggal……………………………….( http://itheng.blogspot.com/2010/12/janjikumulai-hari-ini-14-desember-2010.html)

Tau kawan?? jika engkau bayangkan, problema anak jalanan tentunya tak akan bisa diselesaikan dengan sekali sentuh saja, maupun degan perbaikan satu aspek ekonomi saja. Butuh waktu yang sangat panjang dan kontinue serta tenaga yang selalu istiqomah, atau bisa dikatakan sebuah sistem yang mampu merangkai keistiqomahan, kontinuitas, serta kekreativitasan yang dapat memacu perbaikan mental sosial, ekonomi, pendidikan, dan psikologi kearah prestasi.

Benar jika sistem yang dibangun harus membuat anak anak jalanan tersebut kembali kedalam masyarakat. Satu tahap yang sangat susah dan merupakan keberhasilan tahap pertama. Apabila dilakukan sangatlah membuat kita ini tersenyum. Anak jalan itu tidak ada, jika ingin menghapuskan di Indonesia ini, anak jalanan, dan kita masih menganggap anak - anak yang dijalan itu sebagai anak jalanan, maka tidak akan bisa kita hapuskan anak jalanan. Kita harus menggap anak - anak yang dijalan itu sama dengan anak - anak lainnya yang harus dikenalkan dengan sebuah masyarakat. Jadi, usaha pertama adalah bagaimana mengembalikan anak - anak tersebut kembali ke lingkungan masyarakat, dengan demikian mereka akan mengenal arti toleransi dan adab. LALU BAGaimana caranya???Pertanyaan yang harus kita jawab dan Mas Bembeng, Sarjana Hukum lulusan UGM yang selama 10 tahun lebih berkecimpung dalam dunia ini nampaknya telah menjawabnya.

Masih dalam tempat yang sama, lokasi pembelajar kehidupan dimana aku menulis, angkot menuju stasiun holl. Aku menemukan point ketiga dimana tempat aku mengabdi, yakni membuat anak - anak tersebut berprestasi. Ya, kawan....sebuah prestasi akan mampu menjadikan kebanggaan dan kepuasaan tersendiri bagi anak - anak tersebut. Prestasi di bidang apapun yang mereka sukai. Keinginan anak - anak untuk meraih prestasi mampu mamacu otaknya untuk berpikiran meraih prestasi tersebut sehingga waktu yang digunakan anak - anak tersebut dapat tergantikan dengan kegiatan untuk meraih prestasi dari pada berada di jalanan maupun kegiatan tak bermanfaat lainnya. Implementasi dari hal tersebut, tercermin pada organisasi yang telah maju terlebih dahulu, salah satunya Anak Wayang Indonesia.

Angkut kol yang aku tumpangi sepertiga marah, deru klakson yang selalu dibunyikan oleh sopirnya setiap kemacetan melanda atau tepatnya setiap dua puluh detik sekali, memberikan warna tersendiri bagi telingaku, yang apabila biasanya aku mamaki, namun dengan tema perjalan ini, aku justru menikmati. Taukah kawan....apa yang sebenarnya ingin sekali aku lakukan, melihat segala keinginan yang tumbuh didalam pikiranku saat nafsu shahwat tak menggebu - gebu?? Ya...membagi segala pikiran yang aku tuangkan dalam tulisan ini kapada semua pemuda yang aku kenal. Karena apabila hanya sebagian kecil pemuda itu, maka perubahan untuk negeri ini tidak signifikan dan tidak akan membuat indonesia tersenyum. Mengapa? Karena di masadepan hanya akan ada orang - orang yang banyak memiliki mobil mewah, rumah megah, kekayaan melimpah dan segala kekayaan lainnya dimana membuat semakin nyata kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Aku tak ingin generasi muda yang aku kenal seperti itu. Jangan salahkan mereka!!! bukan karena mereka sengaja membiarkan kesenjangan itu terjadi, namun karena si kaya tak tahu dimana si miskin itu berada, lingkungan si kaya dalah kaya semua yang demikian si kaya dalam otaknya melihat bahwa total kehidupannya adalah orang - orang kaya, tak ada lagi si miskin yang harus berbagi. TV? TV belum mampu menekan logika Qolbu, karena hanya menyajikan segala tayangan dalam bentuk logika fikiran, yakni eksploitasi kemiskinan, bukan semangat kecukupan. Inilah point keempat tempat dimana diriku mengabdi. Mendidik adik adik, untuk sedini munkin mengenal masyarakatnya, masyarakat yang harus ditolongnya ketika telah menjadi "orang".

***

Tempat pemberhentianku, stasiun hall, tempat dan waktu yang tepat, adzan magrib masuk berkumandang merasuk telinga, tanda waktu berbuka. Sebelum turun, kutawarkan gorengan yang telah ku beli sebelum naik angkot, namun ternyata tawaran ini tak ada yang menerimanya, ditolak oleh orang - orang di depan, samping kanan kiriku, sekitar 6 orang. Mungkin diperlukan kepercayaan terhadap pemberi untuk menerima sesuatu yang diberikan. Kepercayaan terhadap orang - orang asing yang tiba - tiba memberi sesuatu diaggap sebagai suatu kecurigaan. Banyak hal yang memperkuat kondisi tersebut, salah satunya adalah spanduk di stasiun kereta api yang berbunyi "Jangan menerima air minum/makanan dari orang yang tidak anda kenal". Hal - hal demikianlah yang menyebabkan paradigma terbalik bahwa dulu angkutan umum seperti kerata - api, bus, angkot dan lain lain menjadi sarana khusus untuk menambah silaturokhim berubah paradigma bahwa didalam angkotan umum orang harus saling mencurigai dan berhati - hati. Ke-sosial-an untuk saling bertegur sapa dan bersilaturokhim mulai musnah berganti dengan individualisme kewaspadaan tingkat tinggi.

Tidak heran apabila Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng.,Ph.D., Rektor Universitas Gadjah Mada mulai membentuk sebuah masterpiece yang dirasa amat kontroversial bagi kawan – kawan mahasiswa. Apakah aku yang belum memiliki kejernihan hati melihat hal ini, apakah aku yang memiliki pengetahuan belum mempuni, ataupun apakah aku yang mengunyah informasi hanya setengah – setengah. atau akulah yang memang kurang wawasan, astagfirullah!!maafkan aku jika di sini hati ini terlalu angkuh dan sombong serta tak peka terhadap lingkungan. Pembatasan kendaraan bermotor nampak menjadi komersialisme Universitas Gadjah Mada, bahkan dianggap sebagai sarana penjauhan dengan masyarakat sekitar karena akses masyarakat di batasi. Mungkin hal ini bagaikan Nabi Musa A.s dengan gurunya Nabi Kidhr A.s dalam Al-qur'an surat Al-Kahfi 60-82. Pada saat itu, Nabi Musa A.s selalu melakukan protes terhadap hal - hal yang dilakukan oleh Nabi Kidzhr. Pertama, Beliau protes dengan Nabi Kidhr dimana nabi kidhr membocorkan perahu. Protes kedua disampaikannya ketika Nabi Kidhr membunuh anak kecil. dan protes terakhir adalah memperbaiki rumah kerut hampir roboh di lingkungan yang kedatangan mereka tidak disambut dengan baik, bahkan mereka diperlakukan buruk. Sama halnya dengan sekarang, Mahasiswa pun demikian, memprotes gurunya. Agar tidak salah persepsi, akan saya kutipkan tulisan protes ini dari tulisan blog dengan alamat http://bemkmfaugm.wordpress.com/2011/03/31/aksi-tolak-kik-rektor-akhirnya-turun/ :

"Aksi ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari pemberlakuan SK Rektor No 408/P/SK/HT/2010 mengenai Pemberlakukan KIK sejak tanggal 1 Februari 2011 yang dinilai kurang efektif dan dalam jangka panjang tidak memecahkan persoalan kepadatan volume kendaraan di UGM. Selain itu, mekanisme tersebut juga diduga menjadi bagian dari bentuk komersialisasi kampus."

di situ, ditambahkan pula sebuah kalimat yang apabila tidak dimaknai secara mendalam oleh pembaca memang memberikan semangat yang menggebu - gebu bagi mahasiswa,

"Pergerakan mahasiswa tidak akan pudar hingga nampak jelas yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih. Komersialisasi kampus tidak akan pernah berhenti sampai di sini. KIK memiliki dampak negatif lebih banyak ketimbang positifnya. Kebijakan BEM KMFA sendiri memutuskan untuk menolak adanya KIK,".

Untungnya Rektor Gadjah Mada tidak melakukan hal seperti yang dilakukan oleh nabi Kidhr a.s.

"Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Jika Pak Rektor mengambilkan hal serupa, maka dapat dipastikan, drop out, hehehe...

Namun ada hal serupa yang dilakukan oleh Pak Rektor, yakni tiga pernyataan. Ababila nabi Kidhr a.s menjelaskan secara langsung, maka mungkin Pak Rektor menjelaskan hal ini secara harfiah yang akan aku artikan menurut kacamata pribadiku.

Nabi Kidrh a.s Berkata kepada Musa a.s :

"Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera."

"Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)."

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."

Sedangkan Prof Sujardwadi berkata kepada para pemrotes :

Pernyataan pertama : Rombongan yang datang di sini harus ada organisasinya. Harus ada siapa yang bertanggung jawab. Itu berarti diantara kawannya dididik menjadi pemimpin. Saya mempunyai salah satu kewajiban untuk mendidik menjadi pemimpin yang baik.

Pernyataan kedua: UGM didatangi putra putri terbaik bangsa, yang dititipkan ke kita harus kita cintai karena akan kita didik menjadi pemimpin. Bangsa kita memerlukan pemimpin yang berkualitas, pemimpin yang baik.

Pernyataan ketiga: Kita harus berkomunikasi secara baik untuk menyiapkan diri bagi masa-masa yang akan datang. KIK adalah proses ugm untuk menjadi kampus yang baik. Tujuan utama adalah bagaimana bangsa kita mempunyai identitas. Siapa yang memiliki kesulitan, itu pasti akan kita beri solusi, tapi tidak dengan cara seperti ini. Cara semacam ini tidak efisien.

Baiklah, dari pernyataan harfiah tersebut yang ternyata mahasiswa belum mampu memaknai bahasanya, saya akan mulai menginterpretasikan menurut kacamata pola pikir saya apabila saya menjadi Prof. Sujarwadi. Aku akan berkata, "Lihatlah kondisi sekarang wahai muridku, dengan adanya KIK tersebut, ke-mesum-an yang sering terjadi di lingkup UGM dan dilakukan oleh orang - orang luar UGM diatas motor ataupun mobil sudah tidak pernah terjadi. Apa kalian ingin, kampus kita ini menjadi kampus mesum?. Yang kedua, kini tindak kriminal menjadi semakin jarang terjadi karena maling pun berpikir ulang. dan yang terakhir, masyarakat luar lebih enjoy dalam menikmati Gadjah Mada sebagai tempat rekreasi yang indah, karena rumput - rumput hijau di boulevard maupun pohon - pohon rindang yang ada mulai meneduhi para pelari dan pen-jogging. Selain itu, masyrakat luar juga masih mampu menimkmati keimanan dalam lingkup Masjid Kampus maupun sunday morning.

Memang, mahasiswa lebih "cerdas" daripada nabi musa, di jelaskan demikian masih saja berseteguh dengan pendiriannya hingga berbagai macam buletin yang mewakili "sebagian kecil" aspirasi mahasiswa tetap membahas tentang hal ini. Maka tak usah panjang - panjang guru besar ini menjelaskan, jawabanya akan ada dalam tempo waktu 5 tahun kedepan, dimana mahasiswa baru dalam surat pernyataan bermaterai telah "mengiyakan" untuk tidak membawa kendaraan bermotor diarea lingkungan kampus. Akupun, sebagai mahasiswa baru S2 menandatanganinya dan kita lihat bagaimana komitmenku untuk mendukung Guru besar ini. Seandainya kalian tahu, ternyata sulit sekali memenuhi komitmen bersepeda selalu!!!...Kalian bisa membayangkan, apa yang akan terjadi dalam tempo 5 tahun kedepan?. "kampus akan dipenuhi dengan ornag - orang yang saling bertegur sapa dan melempar senyum kepada sesamanya, maupun masyarakat yang menikmati kesejukan udara kampus". Betapa indahnya jika hal itu terjadi di kampus kita, kawan. Budaya ramah tamah Yogyakarta, kembali melekat dalam benak setiap mahasiswa perantauan. Merasakan sulitnya orang belajar, serta perjuangan para pejuang - pejuang dalam mem "prehaten" kan kehidupannya agar kita mampu menikmati hari ini. Dan aku pun bersepeda, namun ternyata komitmenku terkadang luntur tak sekuat perjuangan para pejuang (payahnya aku!!). Meskipun demikian, akan aku cobakan perjuangan ini selalu.

Hal ini sesuai dengan apa yang dituliskan oleh agung baskoro, dalam kumpulan cerita inspiratif di www.inspirasi.ugm.ac.id dengan judul Bacalah!!! Beliau telah memahami bahwa gadjah mada merupakan sebuah universitas perjuangan, dimana universitas ini merupakan simbol kemerdekaan sampai sampai beliau mengungkapkan bahwa untuk mencoba merasakan perjuangan para pejuang, maka kita haruslah menggunakan almamater berwarna karung goni. Betapa tinggi sekali pemikiran beliau, untuk mengubah mental para pemuda sma yang masuk ke dalam jenjang mahasiswa. Mungkin, apabila dihubungkan dengan kebijakan rektor mengenai KIK ini, maka sesungguhnya kita dapat memetik kesimpulan bahwa kita ini, sebagai mahasiswa masih belum bisa masuk dalam tahap merasakan perjuangan para pahlawan - pahlawan kita, kita hanya ingin enaknya saja dan enggan berjuang untuk lebih keras dalam menghargai perjuangan para pahlawan kita. Kesimpulannya, kita ini hanya mau enaknya saja menyikapi kebijakan - kebijakan yang ada.

Ada pertanyaan yang perlu di jawab, untuk para mahasiswa yang sangat cerdas, pemimpin masa depan, dan kritis terhadap kebijakan.

saat di berlakukannya kebijakan sepeda untuk kampus, mengapa mahasiswa tidak mendukung? mengapa pendemo tidak melakukan unjuk rasa menyatakan dukungan dan mengimplementasikan dengan mulai jalan kaki ataupun bersepeda? Atau hal lainnya yang mendukung kebijakan ini? Sebuah pertanyaan yang perlu di renungkan kita semua.Inilah kawan, bukti bahwa kita ini berunjuk rasa masih menggunakan emosi dan seenaknya sendiri. padahal kita tahu, bahwa kebijakan ini sangat baik minimal untuk lingkungan. Bahkan banyak yang mengeluh. Pertanyaannya, mana pemimpin - pemimpin yang katanya memiliki idealisme tinggi, mengapa mereka tak mendukung kebijakan ini dengan berunjuk rasa menggunakan sepeda? Memberikan contoh kepada mahasiswa lainnya? (Atau mungkin, akulah yang tidak tahu!!, maka maafkan lah aku, atau memang kita masih mengelak bahwa konsep edukopolis yang diterapkan tidak sesuai dengan daerah kita, atau memang sesungguhnya ego kita yang tidak bersedia ber “prehaten” dalam meneruskan perjuangan pahlawan “karung goni” ). Mohon maaf apabila ada pembaca yang berseberangan pemikiran denganku, hanya ingin mengungkapkan pikiran dari orang yang tak memiliki wawasan seluas pikiran kawan – kawan.

***

Selepas turun dari angkot, aku segera saja mencari masjid. Untung saat ini hawa nafsu dalam diri terkontrol sehingga mampu berhitung tentang haruskah langkahku ke masjid. Sungguh kawan, tak bisa aku pungkiri bahwa hawa nafsu shahwat serta teman-temannya merusak segala tatatan jadwal waktu, tatatanan pola pikir yang telah tertulis dalam tulisan ini. Sampai sekarang, tantangan terberat dan terbesar dalam diri ini bukan apa yang ada diluar, namun yang ada didalam diriku sendiri. Point kelima yang harus aku abdikan adalah mengabdi untuk diri sendiri. Benar memang yang dituliskan adikku, Annisa Qisthia Fathdhieny, Adik angkatan yang sering belajar kimia organik bersama teman-temannya di kozku. Di dinding kamar kozqu aku tuliskan " Untuk mengubah hal besar yang ada di Indonesia, ubah dulu hal kecil yang ada disekitar kita ". Dia pun menambahkan disamping tulisanku itu, "Ubah dulu diri kita". Dan dibanding kondisi saat ini, dalam tulisan ini, tepatnya saat aku ada di jembatan penyebrangan dengan tangga berlekuk ulir cantik didaerah Dago, aku menyadari bahwa mengendalikan hawa nafsu tersebut adalah point yang tidak kalah penting dengan point - point sebelumnya. (Di tangga lekuk ,aku terduduk selama 1 jam untuk menambahkan tulisan ini)

Aku berjalan, berjalan terus sambil iseng meghitung berapa jumlah mobil mewah yang dapat aku tangkap melalui retinaku. Baik yang ada di jalan maupun ditempat parkir. Duduk aku tepat di Blossom,family outlet. Kembang api meledak ledak menyambut kedatanganku. Dalam jarak 5 meter, berdiri wanita bergaya modies jean, dan baju u can see bermotif macan tertutupi kardigan hitam yang tak berhasil menutup dada atas payudaranya. Saat kembang api itu meledak, entah secara tak sengaja ataupun sengaja berlogat kejakarta - jakartaan, "siapa tuh, RC banget!!!". Padahal aku tahu dari wajahnya yang apabila tidak dipermak dengan dandanan aduhai maupun balckberry yang dimilikinya, akan muncul sosok wanita sunda asli desa yang berada di lereng kawah putih, tempat termistik di Bandung, tempat dimana para pezina konon bertandang kesana untuk menggugurkan kandungannya tanpa harus mengeluarkan orok. Aku melihat geliat ekonomi di kota ini sangat menggeliat -geliat. Hal inilah yang menginspirasikan point selanjutnya dalam pengabdianku. Penciptaan usaha mikro dengan ilmuku tanpa harus mengambil keuntungan darinya. Nampaknya kita memiliki ilmu yang mumpuni untuk menciptakan hal hal itu, dan dirasa aku mulai menampakan hasil dengan adanya DD-light. Aku memang belum pandai berbisnis, orang tuaku mengatakan, konsistensiku dalam bekerja belum ada serta nilai nol dalam keistiqomahan. Namun keyakinanku bahwa penciptaan lapangan kerja untuk usaha mikro nampaknya hal yang tidak sulit bagiku.

Kulanjutkan perjalanan kearah yang berlawanan dengan arah ITB, setidaknya menurut plat Ijo yang terpampang diatas jalan. Sampai pada plat ijo lagi yang apabila lurus terus menuju Dago Pakar, sebuah pertanyaan yang menggelitikku, ada apa disana???

Ditempat antara jalan dan trotoar, taman rumput yang terawat cantik, dibawah tiang listrik dengan atasnya kabel - kabel semrawut, entah kabelnya apa saja, disitulah aku duduk melanjutkan tulisan ini. Diseberang jalan sana tertulis nama toko, "La DIFA, Cookies & Layer Cakes". Toko ini tepat disamping Cirkley K. Didepannya gadis - gadis remaja usia SMA atau kuliah berfoto - foto, menandakan mereka juga bukan orang daerah sini, atau malah menandakan mereka kumpulan wanita dari beribu - ribu kumpulan gadis yang maniak FB dan selalu update status serta update foto dimanapun mereka berada. Entahlah!!!yang jelas, nuraniku mengatakan aku harus mengikuti mereka. Maaf, bukan nurani, namun mungkin lebih tepatnya, nafsu.!!! Point keenam sebagai wujud pengabdianku terinspirasi dari para pemuda pemudi seberang jalan yang aku lihat itu. Juga terinspirasi dari kawan - kawanku saaat ini, saat aku di Bandung, mereka tunggang langgang interview dan memmasukkan lamaran keberbagai macam perusahaan.

Dingin menyergapku, penasaran dengan dingin yang telah mulai menyemak dan menggigit kuliktku, ingin kuhidupkan handphone untuk melihat jam berapa sekarang. Namun, belum saja menghidupkan handphone, tulisan in terhenti dengan adanya dua ibu - ibu yang menawarkan dagangan ubinya. Sedikit memelas!. Tidak!!Sedikit berusaha menawarkan namun dengan semangat berusaha mendapatkan penukaran ubi dengan uang. Dia menawariku dengan bahasa sunda, namun kekurang pahaman bahasa membuat aku mulai membenahi komunikasi ini dengan bahasa indonesia. Bahasa indonesia yang aku kenakan bukanlah bahasa indonesia yang baik dan benar karena logatku sudah terpengaruh dengan logat sunda. Ibu ini menjual ubi untuk pulang ke garut. Segera saja, aku tak membeli ubi itu, namun tentu kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dari interaksi itu aku salim dan kuciumkan telapak tangan kedua orang tua itu dikeningku sebagai penghormatanku kepada mereka, puji - pujian dan doa mereka penjatkan, bahkan memberikan nomer HP atas nama ibu eli. 085314552680. Disuruhnya mampir, ketika nanti suatu saat aku berada di Garut, meskipun entah kapan!!! Apa yang aku pelajari dan kalian pelajari dari kedua ibu penjual ubi itu?? Renungkan, dan bandingkanlah dengan para pengemis/peminta yang selalu kalian jumpai!!. Jawabannya adalah ada di Semangat Kerja.

Kembali lagi ke point keenam yang belum terselesaikan. Pengabdian yagn harus aku lakukan secara berkesinambungan pada saat ini adalah mendidik adik - adik angkatan untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya dalam dunia nyata, yakni pembuatan lapangan kerja. Dengan demikian, harapanku...mereka akan mampu memulai dari awal dan dari muda untuk mendirikan apa yang dimimpikannya, seperti mendirikan Industri Obat, Industri Jamu, Rumah sakit herbal, maupun para peneliti profesional.

Bukan salah apabila mereka harus bekerja terlebih dahulu dengan ikut industri industri yang sudah ada, namun pikiranku bergelitik dengan pengusaha ulet pemilik sanbe farma. Konon katanya, bapak ini berwirausaha dengan berjualan obat racikan yang dipromosikan ke dokter dokter menggunakan sepeda butut. Entah benar atau salah, tapi aku layak mengganggapnya sebagai kebenaran, dan mampu memetik pelajaran yang bermakna, yakni membangun mimpi seperti lapangan pekerjaan harus dimulai sejak muda dan sejak dini. Karena semangat pemuda yang berkobar - kobar "makentar kentar" tak dimiliki pada esok hari tua.

***

Jam 20.55 , ternyata telah membuat dingin menyeruak membalut diriku. Dingin ini tak menghalangi perjalananku, kini aku duduk lagi setelah kurang lebih 10 menit berjalan. Duduk ditempat terang depan pintu masuk UPT Perpustakaan ITB. Sungguh Megah kawan, area ini, bangunan yagn bercokol memang membuat dada ini berdegub. Inilah institut teknologi nya Indonesia. Dan ternyata tempat yagn serupa menjadi rumahku masa - masa S1 lalu, berada 10 meter didepanku, namun dibawah , bawah tanah., bukan!!namun terdapat di bawah area ini. Unit Kegiatan mahasiswa yang penuh dengan maahasiswa apalagi saat ini malam minggu. Takjub dibuatnya kawan, namun ku tak berani untuk meliaht UKM Perisai diri yang ada disini.

Sesampainya di ITB ini, pikiran memikirkan diriku, mungkin aku ini gila, atau mungkin aku ini kesurupan. Bukan sembarang kesurupan, aku disini kesurupan oleh rohnya Prapanca yang menuliskan segala kejadian di Negara Majapahit dalam wujud Kitab Negarakartegama. Teman Mahapatih Gadjah Mada ini membuatku berpikir, apakah semasa hidupnya dia selalu menulis dan menulis. Perannya sangat luar biasa, karena mungkin jika tak ada dia, orang yang menjadi panutan agama Budha di massanya itu, tak akan pernah terdengar kata Nusantara yagn telah di persatukan oleh Mahapatih Gadjah Mada pada era Hayam Wuruk. Kesurupan Prapanca itu pun beralasan, karena saat ini aku berada di Bandung. Mungkin dia ingin menyampaikan kepadaku bahwa disinilah, di Jawa barat, Dyah Pitaloka mu itu ada, namun jangan sampai pembantain bubat terjadi lagi membuat remuk hati Hayam Wuruk dan terpecatlah gadjah Mada dari kedudukan patih. Dyah Pitaloka yang tak berani aku usik,meskipun dia selalu muncul dalam mimpiku.

Ku berjalan lurus menuju entah kemana, tapi firasatku pintu depan. Aku terkagum - kagum melewati gedung - gedung megah, satu gedung megah bertuliskan Achmad Bakrie, setelah itu terdapat kolam melingkar yang disampingnya terdapat tulisan berbagai fakultas yang ada di ITB. Melangkah terus aku melihat prasasti, yang dibaliknya setelah aku baca benar, prasasti perismian ITB oleh haji Ahamad Soekarno, jika tak salah baca, karena lamat lamat. Kemudian sekamin berjalan, sekamin takjub hingga keluar dan aku terduduk di pintu luar dibawah dua baliho besar ukuran 7x4 meter. Satu baliho berwarna ungu didesain semenarik mungkin degan tulisan "TUANGKAN IDEMU, UNTUK TUHAN, BANGSA, DAN ALMAMETER. Di bawah nya terdapat tulisan lebih kecil berfont Arial "PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa 2011). Sedangkan Baliho yang ada di bawahku tepat, baliho dengan ukuran dan warna sama, bertuliskan dengan font yang sama namun tulisan terbesar adalah PKM Program kreativitas mahasiswa 2011.

Sebenarnya masih ada dua balihao lagi di areaku dan 4 baliho lagi 10 meter di deapanku, namun bagiku yang menarik hanyalah dua baliho ini karena rupanya semangat PKM di ITB menggetarkan diriku meskipun didepanku ada baliho berfoto Pak Habibi bertuliskan Presedential lecture Series Indonesia 2045, Sudahkah kita berdiri sendiri mencari terobosan menuju kemandirian bangsa."

ya...point berikutnya untuk mengabdi adalah mendidik adik adikku di CRC (Curcumin Research Center), memunculkan karya - karya research nya dan juga aku sendiri menjadi pe research handal untuk perkembangan penemuan obat baru di Indonesia, baik dengan program PKM maupun tidak. Sesuai dengan semangat yang tertampung dalam wajah Pak Habibi.

Betapa megahnya ITB dan betapa besarnya mimpiku, indah sekali apabila hidupku berakhir dengan pencapaian semua point tersebut dan jelas point point lainnya akan muncul seiring usiaku, atau justru semua poin akan musnah karena terkalahkan oleh hawa nafus, semoga saja tidak, semoga saja Allah selalu melindungiku.

Menginjak dari ITB aku berjalan dan terus berjalan, tak terasa ternyata aku hanya berputar - putar sedari tadi, karena aku kembali ke tempat pertama kali aku menginjakkan kaki, dago, tempat dimana terdapat empat huruf besar yagn terpisah degnan masing - masing abjad D, A, G, dan O berwarno merah. tak Jua beda dengan malioboro, tempat tersebut di penuhi oleh para remaja yang menghabiskan waktu malam minggu dengan nongkrong serta melampiaskan hobi bahkan kesukaan mereka masing masing. Entah., diseluruh indonesia dengan puluhan kota - kota besar, berapa jumlah pemuda tersebut???Teringat dengan perkatan sahabatku, yang masuk dalam team 10, Silvia Dwi. Mungkin pertakaan ini tidak muncul dari dirinya semata, namun dari satu sosok pemimpin yang memimpin team tersebut. "sedih sekali, melihat masa depan pergerakan mahasiswa, tak berarah!". Mungkin aku tak paham makna kata - kata tersebut secara mendalam, karena sampai sekarang aku belum melihat pergerakan mahasiswa selain "berdemo", hehehe...mungkin apabila di sejajarkan dengan pemuda yang ada disekelilingku saat ini, dan pemuda pemuda lain yang mengamati malam minggu ini dengan cara demikian, itulah yang membuat kesedihan. Potensi yang sangat besar, dimiliki oleh pemuda secara tidak langsung di "matikan" dengan kegemaran-kegemaran masing - masing yang kebermanfaatannya di pertanyaakan bagi diri sendiri maupun orang lain. Mungkin apabila ditarik secara gars lebih mendalam, maka kesedihan itu dapat terjadi kepada sumpah yang saat ini terlupakan oleh para mahasiswa, remaja, dan pemuda, Ya "Sumpah Pemuda". Sumpah yang dicetuskan oleh para pemuda penggerak Perubahan Remaja. paling tidak, akan aku ttuliskan sumpah ini, agar diriku dan dirimu teringat terhadap lahirnya sumpah ini agar kita slalu ingat sumpah ini ada untuk kita. bukan untuk personal seperti sumpah Hamukti Palapanya Gadjah Mada, dimana ketika gadjah mada tak lagi menjabat sebagai patih, maka sumpah itu telah hilang dan tak berkwajiban melakukannya. lain kawan, sumpah pemuda ini adalah sumpah turun temurun dan ditujukan bagi semua para pemuda yang memiliki gelora bertalu - talu dan menggebu -gebu untuk tahu prioritas kegiatan apa saja yang harus dilakukan.

Sumpah pemuda

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia

namun sayang sekali, aku tak mampu mengambil point apa yang harus aku petik agar membuat diri ini mengabdi, (kalimat sindiran untuk diri sendiri dan teman-teman), bagaimana dengan teman-teman??Sebuah pertanyaan, energi yang dihasilkan antara sumpah hamukti palapa dan sumpah pemuda sangatlah jauh, mengapa demikian? Benarkah karena 20 tahun kemudian, para pencetus sumpah pemuda bermasalah?

***

Kawan....semalam sungguh kejadian yang luar biasa. sampai aku harus melenguh panjang menahan rasa sakit akibat terperosok didalam selokan depan telkom, selokan yang cukup dalam kawan. Hasilnya t idak main - main, kuku jempol kaki sebelah kiri terkelupas separoh dan separohnya masih ada tersisa. Darah mengalir, bercucuran terus menerus. Kondisi seperti ini memaksa aku untuk bergeleng - geleng dan bersyukur, ada maksud di balik ini semua...

***

Di balik kesusahan, pasti ada kemudahan yang justru apabila kita termasuk bagian dari orang yang selalu bersyukur sangat terasa nikmatnya. Begitu pula dengan kejadian luar biasa yang menimpaku saat ini. Rasa sakit, nyeri yang mulai terasa akibat efek lidokain yang mulai habis. Sepanjang perjalan pulang Bandung-padalarang, membuat ku menjadi orang paling lemah tak berdaya, terkena getaran sedikit saja nyeri semakin menjadi, apalagi jika tersentuh, bakal keluar teriakan keras dari mulutku. Namun rasanya hal itu patut di syukuri setelah tahu rahasia apa yang ada di balik hal tersebut.

Rasa syukur sesampainya di kamar koz merupakan kenikmatan pertama yang luar biasa, lega berbaur bahagia meskipun badan mulai merasakan reaksi inflamasi, yakni kolor, dolor, tumor, dan function laesa. Rasa syukur kedua terjadi malam harinya, dimana aku benar - benar di buat geleng - geleng dengan abah tukang urut. Hebatnya bukan main! Kemampuannya yang luar biasa membenahi seluruh sendi dalam tubuhku sungguh luar biasa! bagaimana tidak! Dengan berbagai gerakan pada titik titik yang sangat tak terduga selama ini dia tahu segala kerusakan yang ada. Kolor, dolor, dan nyeri hilang. Logika fikiranku tak masuk!!!!

***

Masih lekat ingatamu, lekat sekali ketika 5 suntikan lidokain membuat jempolku patirasa, aku berteriak teriak, mengaduh aduh akibat suntikan, lekat pula aliran darah yang tak mau berhenti sepanjang malam selalu merembes dalam permukkaan perban yang aku ganti sampai lima kali selama semalam tadi. Satu point yang dapat aku petik kawan dari kejadian semalam,

Idealisme/kesempurnaan mimpi harus sekuat tenaga diraih, namun jangan lupa, sang pengatur mimpilah yagn berhak menentukannya!!Jadi, kapan mimpi kita akan teraih, kita tidak akan tahu, karena ketidaktahuan itulah, maka kita harus selalu berjuang untuk meraihnya....

Padalarang-Bandung-Padalarang

Untuk catatan semangatku mengungkapakan "idealisme , agar dibaca di hari tua nanti, dan melihat, bahwa masih banyak PR hidup yang harus aku kerjakan."

Ci gentur, Belakang Pabrik Indomie...Rumah tingkat Pak Jenny

22 Agustus 2011

Aku selesaikan tulisan ini dengan pena biru...

Catatan Idealisme Bandung Berkobar.....

"Cerita Bandung...Omongan hanya akan mudah dilupakan, jika tulisan, maka dapat kau baca sendiri, yang itu merupakan komitmenmu. kau akan malu mengingkari tulisanmu sendiri. maka jadilah apa yang ditulisanmu jangan pernah kau inkari. Beranilah menulis, dan bertanggung jawablah dengan hal yang kau tulis. Jika suatu saat engkau mengingkari idealisme yang ada dalam tulisanmu, maka kembalilah tegakkan idealisme mu.

Untuk itulah, cerita ini aku gunakan untuk mengawali tulisan - tulisan inspiratif yang pernah aku tuliskan baik di media blog maupun media lainnya. Semoga , tulisan ini dan tulisan lainnya dapat menginspirasi kawan - kawan di seluruh Indonesia.

2 comments:

Anonymous said...

pola pikir dan idealisme yang menarik.
menambahkan, KIK yang lebih disoroti masalah uang, mengapa uang menjadi sorotan utama. Seperti yang kamu bilang itu, bahwa sesungguhnya kita ini lebih mempedulikan uang daripada satpam yang tidak di manusiakan, di tugaskan hanya menjadi tukang parkir.

efi sulistiyowati said...

"....orang-orang yang memikirkan ciptaan Allah sambil berdiri, duduk, berbaring....."....subhnallah