Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Wednesday, June 16, 2010

Dengannya, aku hanya terpaku, membisu, tak berani ku menegakkan pandangan, dan membalas tatapannya. Dalam kerimbaan waktu yang berjalan penuh misteri, aku menikmati detik – detik pembicaraan kita.

Dengannya, aku ingin sekali menatapnya, tetapi tatapan tajamku seakan – akan luluh begitu mendengar suaranya. Tak berani aku kurang ajar, energinya amatlah tinggi, aura kesuciannya nampak nyata.

Dengannya…..aku tertunduk….

Pertemuan dan pembicaraanku dengan Ibnu-Hanzalah di masjid membuatku berada ditempat ini, di rumah seseorang yang ingin disembuhkan olehku. Ku tak layak sebenarnya ada disini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sesungguhnya, bukan dia yang ingin disembuhkan. Bahkan, penyembuh yang sebenarnya adalah dia, wanita itu. Sementara yang sakit adalah aku.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ku berjalan menuju bangku taman, di depan Perpustakaan Fakultas Farmasi. Di sana sudah menunggu teman – temanku, ada dara, ema, ira, sudewi, dan ajun. Mereka menungguku untuk belajar kimia organik, mempersiapkan  ujian tengah semester, waktu itu semester pertama aku kuliah disini. Di bawah pohon kamboja, mereka duduk melingkar mengikuti bentuk meja yang ada di taman. Dari jarakku berjalan menuju bangku taman itu, aku melihat mereka sedang asik  bercerita, dan tentunya menggila, samar aku mendengar cekikan mereka dan kadang – kadang serentak berguman hiya……ihiiii……..tanda ada yang lagi di “tanggap” tentang masalah percintaannya. Dari jarakku yang semakin dekat dari mereka, nampak sekali ajunlah biang keladi acara “tanggap- menanggap” itu, dan aku melihat ema lah yang ditanggap. Meskipun dari kejauhan, aku melihat ema nampak malu, pipinya yang putih, terkilas pembuluh darah kecil yang tipis menambah keimutannya,  nampak memerah. Teman – teman yang lain asik mendengarkan celoteh ajun, dan pada saat – saat tertentu mereka serempak berguman hiya…ihii….kaya’ anak kecil. Dari kejauhan, aku menikmatinya, semakin dekat langkahku ke arah mereka, semakin aku menikmati dan aku yakin pasti akan terlibat dalam acara “tanggap-menanggap “ini. Benar juga, sebelum aku sampai di bangku mereka, ira melihatku, kemudian dia nyeletuk “eh…itu itheng….”. Langsung serentak mereka melanjutkan gumanan mereka, gumanan kali ini paling keras dan panjang “ihiiiiiiiiiiiiiiiiii……………..”. Wajah ema memerah padam.

Aku kemudian sok heboh dan senyum ceria menggila, “ada apa ini, ada apa ini!!!”. sambil kedua tangan aku taruh di depan dada, lalu  jariku aku lebarkan semua dan aku goyangkan kepalaku, pura – pura tidak mengerti apa yang mereka candakan. mencari jawabannya, aku menatap Ema, tajam. beberapa saat kemudian teriakan ihi dari teman – teman yang lebih keras kembali terdengar. mereka heboh sekali, ada yang menghentak – hentakkan kakinya, ada yang geleng – geleng, ada yang tangannya menggebrok – gebrok meja lingkar didepannya, bahkan ajun menjahili ema dengan menyentuhkan jari telunjuknya ke dagu ema, mencolek – colek dagu ema. Pipi ema,  nampak memerah, memerah sekali, kali ini. Sementara aku, masih menatapnya menahan tawa, geli, geli sekali. Sok cool aku bertanya dengan mereka dan masih menatap ema “ada apa to de……?”. Sekali lagi teriakan ihii………..bergelora di sore itu, di Fakultas farmasi.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pandanganku tertuju pada  dua wanita yang duduk  di bangku taman sebelah kanan kami. Aku tak milhat siapa dia, aku tak tahu siapa dia, yang aku tahu, mereka berdua sedang mengobrol serius. Kontras sekali dengan kita, menggila, sambil teriak – teriak, bahkan tubuh terkadang ikut aktif, mereka berdua hanya mengobrol, pelan, halus, dan tiap kata yang di ucapkan nampaknya selalu dipikirkan masak – masak sebelum terlontar keluar, sesekali saling menatap empati, kemudian simpati, dan keduanya tersenyum. Sesekali tertawa, tapi tertawa sopan. Tiba – tiba saja, satu diantara dua wanita tersebut mengambil sesuatu di dalam tas nya, kemudian meletakkan diatas meja lingkar yang ada didepannya, kemudian membuka wadahnya, nampak seperti buku, kemudian dia mulai membacanya. Temannya duduk disamping, menyimak bacaannya, menyimak dengan seksama. Kira – kira tiga menitan aku tak menghiraukan candaan teman – teman, hanya memperhatikan mereka berdua, penasaran dengan buku apa yang dibacanya. Tepatnya bukan pada buku apa yang dibaca, tapi pada orang yang membacanya, kenapa dia membaca itu untuk temannya. Dia terhenti membaca,  wanita satunya menatap, dan mengatakan sesuatu, mereka tersenyum bersamaan. Wanita yang membaca buku tadi, entah kenapa, mungkin karena merasa diamati olehku, ia menoleh ke arahku.

Jedeg…deg.., mata kami bertemu, saling berpandangan, menatap, atau tepatnya bertatapan. Deg..deg..jantungku berdebar, ingin berpindah pandang, tak kuasa untuk menolak tatapannya, ada sesuatu dalam hatiku, bermain – main.

 

Aku jatuh cinta….tapi beda…

 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku tidak mengetahui siapa namanya, hanya tahu bahwa ada sebentuk hati yang selalu berdebar ketika milihat atau berpapasan dengannya. Terkadang, saat kami berpapasan, pandangku detik bertama pasti langsung tersambung dengan pandangnya, dan pada detik  kedua, entah, seakan - akan seperti ada yang mengomando, masing – masing langsung tertunduk, tak berani menatap lagi. Dalam lubuk hati paling dalam, aku ingin sekali menatapnya, namun, kehormatan wanita itu menjaganya, menjaga dari aku, agar aku tak berbuat lebih dan kurang ajar. Aku bersyukur ada kehormatan pada dirinya, yang membuatku tak berani. Dia lain bagiku, dia beda menurutku, dan spesial.

Semenjak itu aku “sakit”.

 

Entah, kapan aku akan sembuh, bisa saja tidak akan sembuh bahkan kronis, menggilainya

semester pertama, kedua, ketiga, keempat,kelima, keenam, ketujuh….

aku hanya sakit seperti ini, mengenal nama pun tidak. Tak ada kemajuan mengenai kisah ini, stagnan. Tak berani ku bertaya kepada teman – teman , siapa dia!. Biarlah ini menjadi rahasiaku…di balik kisah cintaku yang lain.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semester pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan. Aku wisuda, yah!!!…selamat tinggal fakultas, aku akan pergi meninggalkanmu, dan meninggalkan tatapan itu, meninggalkan wanita itu. Namun, aku mulai mengenalnya, mengenal namanya. Tetapi hanya nama, hanya sebentuk nama. Meskipun demikian, nama itu nampak indah ketika ku mendengarnya, apalagi mendengar melalui lesannya sendiri, dengan tatapan dan senyumnya.

Sudah lama aku memikirkan cara, bagaimana agar bisa mengenalnya, namun dengan terhormat, bagaimana agar dia mengenalku namun dengan terpandang, bagaiamana agar aku bisa berucap dan saling mengucap kata, namun tanpa rasa hina. Kesempatan itu ada, datang sekali, nekat.

Waktu itu, semester delapan, dimana pada semester ini aku harus menyelesaikan tugas akhir.. Untuk menyelesaikan tugas akhir, aku harus meliwati dua ujian, dimana ujian pertama adalah ujian tertutup yang hanya ada penguji dosen dan yang di uji (aku) sedangkan ujian yang kedua adalah ujian terbuka dimana harus dihadiri oleh para mahasiswa. Ujian terbuka inilah yang aku gunakan sebagai alasan untuk mengenal dirinya.

Wanita itu duduk di salah satu kursi biru, dibawah tangga Salah satu Gedung  Fak. Farmasi. Saat itu, aku melihatnya sedang membuka HP, membaca sms mungkin. Jilbab hijaunya membalut sebagian besar tubuhnya,  aku tak berani bertindak lebih untuk mengamatinya, hanya itu yang bisa aku diskripsikan tentang dirinya. Wajahnya tertunduk, tak melihat sekitar, dan mulai menegakkan wajah ketika sadar ada yang menghampirinya, itulah aku. Saat di menegakkan wajah, pandangan kami lagi – lagi bertemu, dan deg..deg..jantungku berdebar, dan kurang dari sekian detik tanpa dikomando lagi, wajah kami segera menundukkan pandangan salah tingkah.

“assalamu’alaikum …”

“wassalamu’alaikum warohmatullohhi wabarokatu..” dia menjawab lebih lirih dari suaraku dan sedikit bergetar, tanda bahwa dirinya juga sedang membenahi debaran jantungnya, belum bisa mengendalikan salah tingkahnya…

“afwan ukhti, aku mengganggu ketenangan ukhti, Namaku andy”

dia mulai menegakkan pandangan, berusaha melihatku, dan mendengar pembicaraanku dengan seksama, tapi tak membalas perkataanku, aku mulai duduk, kira – kira jarak dua meter dari dia, aku duduk.

“besok ,tanggal 17 Mei jam 13.00, aku akan seminar terbuka, mungkin ukhti tidak mengenalku, tapi aku berharap ukhti dapat hadir di seminarku”

dia tetap tidak bersuara, hanya saja, pandangannya kearahku, menandakan masih menunggu aku bicara.

“mungkin itu saja ukhti, undangan dariku, syukron…”. Aku bergetar…bergetar malu, karena merasa aku salah langkah. Diam, sejenak,  aku mulai bangkit dari tempat duduk dan  mengucapkan salam

“Assalamu’alaikum …”

“wassalamualaikum “

aku melangkah dengan langkah bergetar…semakin jauh langkahku, semakin kuat getarannya…aku mengutukki diriku sendiri, menyalahkan diriku yang telah berbuat nekat dan bodoh.

“andy….!!!”

aku terhenti, langkahku terhenti, namun kakiku yang  “dredeg” semakin “dredeg aja”, debaran jantungnya mengencang. Ku beranikan diri untuk menoleh dari asal suaranya, dan sekali lagi mata kita saling bertatapan, kali ini dia dengan tersenyum, dan aku membalas senyumnya. bungah!!

setelah  senyumannya, dia mengatakan sebuah nama.

Aku tersenyum, kita saling tersenyum, dan aku membalikkan badan, melanjutkan langkahku menuju kantin.

Tersenyum…

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semenjak mendengar nama itu dari lesannya, entah kenapa, setiap sepertiga malam, pikir dan lesanku hanya tertuju pada sebuah nama dan bayang dirinya, doaku terpanjat untuknya, dan berharap untukku, bahkan mimpi pun menghampirkan ku kedalam lingkup wujudnya.

Sebait nama itu membuat aku gila…

aku gila cinta…….tapi beda…..

galau…

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Empat puluh lima peserta telah duduk di bangku yang disediakan. Hampir penuh isi ruangan ini dengan mahasiswa Farmasi. Aku duduk sendiri menghadap mereka, seakan – akan merekalah yang akan menghakimiku, membantaiku, mengejawantahkan dendam masa lalu mereka saat aku beri pertanyaan – pertanyaan menyusahkan. Namun hatiku tenang, tegap, dan siap menjawab semua pertanyaan pembantaian, hanya saja, panikku bukan karena acara seminar ini, tapi panik akibat menebak – nebak, datang tidak ya wanita itu. Dia belum nampak!.

DOsen – dosen sudah mulai masuk ke ruangan dan duduk di tempat yang telah disediakan. Lima menit lagi pukul 13.00, dan pada menit itu tepat seminarku dimulai. Pandanganku tidak kearah teman – teman yang berusaha menggodaku, tapi ke arah pintu, menunggu wanita itu datang. Menunggu kehadiran tamu undangan spesial, tapi tidak terlalu berharap.

Lima menit aku memandang pintu, menghadirkan keputus-asaan menunggu, saat nya berkonsentrasi, pikirku saat itu. Tepat saat aku memutuskan untuk berkonsentrasi, terbukalah pintu ruangan, terbuka pula senyumnya yang hadir untukku…

Seminar dimulai…

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah semua pertanyaan aku jawab, (Jumlahnya lebih dari  setengah jumlah peserta ruangan ), tiba saatnya dosen menentukan nilai Tugas akhirku. Namun, tiba-tiba saja Profesor pembimbingku tunjuk jari dan mengatakan ingin mengajukan pertanyaan terakhir

“silahkan bapak….!”ujarku.

“di lembar persembahan , kamu menuliskan sebuah bait cerita yang begitu indah dan mendayu – dayu, siapa Ema itu bagi dirimu?”..geer…seisi ruangan langsung hi ya……pokoknya jadi rame..*baca lembar persembahanku disini..

glagapan aku, mendengar pertanyaan itu. Haduw, harus aku jawab apa…malu campur salting. Saat itu, aku mengatur emosi, dan mulai menjawab,

“dia, bagiku…bagaikan wanita yang hadir didalam ruangan ini Pak,  Ema mengajarkan aku bagaimana menjalani kehidupan, bagaimana melawan kenyataan, sedangkan wanita yang hadir di dalam ruangan ini, insyaAllah, akan menjadi teman dan pendamping di masaku dan masa depanku, untuk bersama – sama menjalani kehidupan dan melawan kenyataan”

geer….seluruh ruangan berteriak riyuh setelah mendengar jawabanku, dan semuanya mencari – cari siapa wanita itu…mencari – cari dan bertanya – tanya dengan sebuah tanda tanya besar, tanda tanya besar…Semua bertanya….menoleh kanan kiri….

si wanita itu malu, menunduk malu……merah….

aku bersalah pada dirinya…tak bisa menjaga hatiku, melukai kesucian hatinya….

maafkan aku, tapi itu keinginanku…

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Galau….

ada galau bermain didada…

saat engkau tak didepan mata.

Entah rindu entah simpati

aku tak tahu pasti..

Ah….seandainya engkau tahu…

kan kutiti tepi tepi..

untuk menghalau sebuah galau…

aku galau karena mu….

Kini aku telah memasuki dunia baru, dunia kerja, namun kegalauan ini masih ada. Sudah empat bulan aku bekerja, empat bulan pula aku tak melihat wanita itu, dua  bulan pertama, aku menahan rasa galauku, tak kuat, menyiksa, meradang kangenku. Bulan ketiga, akhirnya aku menemukan obat sakitku, dengan melihat komen – komen Facebooknya, dan membaca catatan – catatan yang dibuatnya. Paling tidak, untuk sementara, dapat mengobati luka galauku.

Tapi obat itu tidak lah menyembuhkan,  obat itu hanya mampu menahan rasa sakit saja layaknya analgetik-antipiretik, setelah masa onsetnya habis, maka sakit itu kembali lagi, kembali menyerangku bertubi – tubi. Sungguh aneh penyakit ini..aneh sekali. Mendengar suaranya hanya sekali, berbicara dengannya hanya sekali, namun sakitnya membikin hidup ini keki, hidup enggan, segan pula mati.

Ku beranikan diri untuk mengirim surat  melalui Facebook. satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, seminggu, satu bulan, tidak ada balasan. aku sedih, sedih bukan maen, aku menyesal mengatakan hal itu diruang seminar. Mungkin dia menjauh dari aku, bukan, bukan, tidak menjauh, karena kita belum dekat, mungkin dia memang hanya menghormati aku saja, dan selama tujuh semester ini, hanya perasaanku saja, bergetar, sedangkan dia, dia tak ada rasa denganku. Selain itu aku sadar, bahwa dia terlalu sempurna untukku, untuk seseorang yang pernah masuk pusat rehabilitasi, untuk seseorang yang tanggung masalah agamanya, dan untuk seseorang yang tak sekasta dengannya.

Aku sadar, cinta itu ada kastanya

jodoh itu berdasarkan kasta…

diriku tak mampu menggapai kasta

dan dia, ada dalam kasta

ku tak layak berlayar dengannya, karena kasta

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dia didampingi oleh wanita yang tak aku kenal, ibunya mungkin, keduanya mengenakan jilbab biru membalut hampir seluruh tubuhnya, hanya punggung tangan dan wajahlah yang tak terbalut. Aku bersama Ibnu- Hanzalah duduk berhadap – hadapan dengan mereka, berbataskan meja. Aku menatapnya, dia menunduk, dan saat aku menunduk, dia menatapku. Bungah hatiku, disini, sambil berkata, “apakah ini nyata!!!”

“mulai dari kamu dulu nak, ceritakan segalanya tentang dirimu, kemapananmu, kebaikanmu, dan aibmu, semuanya harus kamu ceritakan, tidak boleh kamu tutup – tutupin, agar tak berdosa engkau seandainya menjadi suaminya kelak..”

 

aku mulai bercerita….

 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

to be continued…

2 comments:

Elka said...

hwaaaa mas andy mau nikaaaahhhh
Mabruk yeah!
mbaknya yg mana sih mas???
hehehehe

ITHENG said...

weh...ne kan cuma cerpen de..kamu ne lho bisa aja....