Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Friday, June 24, 2011

“mendak, jinjit, gejrik, trisik…

mendak jinjit, gejrik, trisik…

mendak jinjit, gejrik, trisik…

satu, dua , tiga, empat…

satu, dua , tiga , empat…”

Sayu – sayu ku dengar suaranya, Semakin dekat, semakin nyata bahwa itu suara Kakak Sunyi. Suara itu memacu Langkahku semakin  cepat menuju Surau. Benar saja, disana para berandal telah berkumpul melingkar. Suaranya jelas sekali,  tak akan pernah ku lupa, benar saja, aku telah melihatnya. “Kakak Sunyi…….!!!” Teriakku bersemangat sambil berlari. Kakak Sunyi pun tersenyum dan melambai – lambaikan tangannya ke arahku. Aku berlari…berlari …dan berlari..semakin dekat, dekat , dan dekat….Hingga saat aku hampir memeluknya, blas, Dia hilang, seluruh alamku berubah menjadi sinar putih. Para Berandal ikut menghilang, hanya tersisa celoteh – celotehnya saja. Hampir aku tak bisa melihat apapun kecuali putih, putih putih tanpa tepi. Aku mencari  Kakak Sunyi, berputar – putar, kemudian memanggilnya, setengah berteriak, di balasnya dengan suara yang masih sama, memberi aba – aba tari. tapi ku tak bisa menemukan sumber suaranya. Aku berteriak lagi, keras, keras sekali. Namun tiba – tiba saja, suasana berubah menjadi sunyi. Aba – aba tari menghilang, suara Kakak Sunyi hilang, begitu pula celoteh para berandal. Kepalaku menyentuh sesuatu, ada yang jatuh dari atas. Lembut sekali, kini sekitarku bertaburan benda berwarna ungu.”ini anggrek” Gumanku. Sama dengan yang ada di meja pembaringan  rumah sakit. Anggrek ini membuat hatiku tenang, namun bertanya – tanya kenapa aku bisa sampai disini. Dari kejauhan muncul Kakak Sunyi sedang menari. Kali ini ia mengenakan baju Segalanya putih. Dia kemudian memulai mocopat pucung,  tetap masih menari.

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani
setya budya pangekese dur angkara

 

Entah dari mana suara- suara gamelan dan saron muncul. Secara serempak suara – suara kerawitan bergema, dari gamelan hingga saron, dari pelok slendro hingga bendo. Sesaat berhenti mendadak, lalu bergema secara pelan dan lembut di ikuti tembang asmaradono. Kakak Wahyuni tersenyum padaku. Sambil mengibaskan sampur ke belakang, kemudian tingkup. tersenyum, masih tersenyum. Sejak tadi aku terpaku. Tak bisa mencerna kejadian yang terjadi di depanku.

Ketika sadar,segera aku berlari menuju Kakak Sunyi. Kali ini pelukanku berhasil. Kaki Kakak Sunyi telah aku peluk, dia menghentikan tariannya. Dia  menyambut pelukanku dan menggendongku, badan kami berputar - putar  , kami tertawa lepas memecah kerinduan yang sangat mendalam. Hahaha…aku tertawa, dia pun tertawa. Dia mengelus kepalaku dan tersenyum.  ku bertanya kepadanya “kakak ten pundi mawon?ampun kesah meleh ngeh!!”. “Itheng…kakak mboten kesah kok, kakak onten ten mriki !” sambil menyentuh dada bagian kiriku

Kali ini pelukanku makin erat. Kepalaku di elusnya. Diamku berubah menjadi tangis, makin lama semakin sesugukan. “Itheng,  janji leh kakak geh?”. “ aku pengen itheng neruske cita – cita kakak, ajari dunia ini menari”. “tapi kak, itheng G iso nari!”. Dia menatapku, dengan penuh keyakinan

“Suatu hari, engkau akan tahu arti seni dari menari, budaya negeri yang harus engkau pelajari”

Sambil menyeka air mataku, dia mengecup keningku. Setelah mengecupku, ia berikan anggrek ungu seperti dulu waktu lalu. Aku tersenyum dan mengangguk, he em kak…aku janji, suatu saat!”.

Dia tersenyum. “ampun sedih geh Theng!!! Kasihan  Kakak Kacang Ijo g ono sing jahili”. Aku tersenyum.

Tiba – tiba saja segalanya hilang, blas….segalanya menjadi gelap. AKu berteriak….teriak dan memeluk sekencang – kencangnya kakak Sunyi agar tak pergi. Tapi aku tak bisa mendapatkannya.

***

Terbelalak mataku, nafas tersengal - sengal Semakin aku melawan untuk bergerak,  semakin kuat tenaga yang menekanku. Aku bisa melihat atap diatasku, bisa mendengar, bisa bernafas, tapi tak bisa bergerak. Aku juga bisa berbicara, bahkan berteriak, tapi Kakak Fatimah yang disampingku sepertinya tak bisa mendengar teriakanku.  Sekuat tenaga berteriak memanggil, namun seprtinya sia – sia, tak terdengar. Aku menyerah, seluruh tenagaku habis untuk melawan tenaga yang sepertinya me”nindih”ku. Akhirnya aku memejamkan kembali mataku dan merasakan tenaga itu perlahan   hilang. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi.

***

Suara  tilawah Kakakku membangunkan tidur. “Mbak, jam piro…?”. “Subuh theng, !!”. Yang ku rasakan seluruh badanku lemas dan letih, pundakku luar biasa pegel. Tapi engkau tahu Ayuthaya?? Semangat didalam dada ini, membuncah, otak ini ringan dan dingin bak tertetesi embun pagi.

 

Eka Ayuthaya Khanif putra…..Telah cukup, selama tiga bulan aku menyesali kepergiaan Kakak Wahyuni. Kini aku harus memegang amanahnya, kembali hidup dengan penuh semangat.

Eka Ayuthaya khanif putra…inilah pertama kali, tempaan kedewasaan ku terlewati. Bak terbangun dari mimpi aku mencoba hidup untuk ceria kembali. Kakak Sunyi telah datang ke mimpiku dan membuatku semangat.

***

Tiba – tiba aku dikejutkan dengan suara kecil di bawah meja kamarku, “sori, lagi teko…ngurus kepindahan Pak Onggo, Bu Cere, lan Undur- undur!!”. Terbelalak kaget aku bukan kepalang, badan terasa lemas.

0 comments: