Total Pengunjung Blog

Blog Archive

Followers

Popular Posts

Thursday, December 30, 2010

 

jika ada orang yang bertanya, siapakah wanita yang paling dekat dengan diriku, dan paling tahu aku? pastilah kau jawabannya

seandainya ada wanita yang bertanya, kenapa kau begitu dekat denganku? karena kau begitu mengenalku, itu jawabannya.

Seandainya ada orang lain -entah siapa- yang bertanya, kenapa kau lebih dekat denganku daripada wanita – wanita lainnya, karena kau lah yang telah menempuh perjalanan bahagia, duka , haru, maupun tersulit untukku, bersamaku…itulah jawabannya

untuk itulah aku juga mengenalmu, lebih mengenali dirimu….daripada lelaki lain.

adeku… kau tahu ? seberapa lama kita kenal bukanlah penyebab bagaimana kita bisa saling mengenal karakter satu sama lain. Tapi lebih dari itu, lebih dari sekedar itu. Seberapa berat perjuangan yang pernah kita hadapi dan lalui lah yang telah mampu menjadikan pribadi ini tahu karakter dan keinginan satu sama lain.

 

ade ku…

ada sebuah cerita untukmu…karena itulah permintaanmu…mungkin terakhir darimu yang harus aku wujudkan.

nama blog

 

_____________________****___________________

 

Kali ini, aku ingin membagi kisahku kepada sahabat – sahabatku, kepada para pembacaku, kepada orang yang pernah mengenal aku, kepada orang yang pernah dekat denganku.

Tentang masa laluku, dan juga masa lalu si ade ku ini. Tentang masa sekarang kita, dan tentang bagaimana masa depan kami yang telah tergambar mulai samar namun pasti.

Untuk apa aku bercerita? Bukan karena dirimu, bukan karena untukku, dan bukan karena orang masa kini.

Cerita ini lebih dari itu, cerita ini aku tuliskan untuk cucuku, cucu adeku, dan cucu kalian kelak. Aku tak ingin cucuku lebih mengenal kehidupan soekarno, soeharto, habibi, gusdur, mega dan SBY daripada aku. Aku tak ingin dia lebih menikmati keindahan novel karya andrea hirata daripada cerita – cerita kakeknya. Aku tak ingin dia lebih menikmati tukikan dan ramuan kata – kata Dewi lestari dalam perahu kertas miliknya daripada kelugasan bahasa kakeknya. aku tak ingin dia lebih mengikuti pola pikir cak nun daripada pola pikir kakeknya sendiri. aku tak ingin dia lebih tahu tentang pikiran demokrasi yang tidak pernah bisa membentuk suatu kemandirian bangsa daripada pikiran kakeknya sendiri. ditambah lagi,  aku tak ingin dia lebih meromantiskan cerita cinta romeo dan juliet, daripada cerita cinta kakeknya sendiri. dan yang terpenting, aku tidak mau dia kelak memiliki pandangan bahwa dunia ini hanyalah ada cinta dengan makluk dan tidak ada lainnya selain cinta. Padahal kakeknya telah mengalami sebuah siklus panjang dan berani mengatakan bahwa “cinta kepada lawan jenis itu adalah hal yang penting, namun jangan semua aspek kehidupan ini kau landasi dengan cinta ini, banyak hal yang bisa kau lakukan tanpa itu, banyak hal yang bisa digunakan untuk merubah dunia ini, tanpa landasan itu”. Mungkin cucuku tak akan mengerti hal ini saat membaca tulisan ku,tapi aku yakin dia akan belajar melalui kehidupannya, melalui cerita cintanya sendiri (sebagian di ilhami dari tulisan Fad Djibran).

------------------------------***--------------------------------

Adeku….perjalanan cerita  kita memang panjang, semuanya indah, meskipun pada saat kita jalani waktu lampau terasa menyakitkan. membuat hatimu remuk redam. Tetapi, cerita itu akan selalu indah di benakku. Semoga saja juga di benakmu.

Adeku…perjalanan cerita kehidupan kita memang naik turun, namun Semuanya indah meskipun kita tak pernah bersama. Dan maha suci ya Allah., Semuanya suci,  karena aku selalu mencoba ada dirambu – rambunya, khusus untuk mu, khusus untuk adeku.

Aku mulai dari sini…..

 

Tak terhitung berapa puluh kali hatinya tersakiti, hanya karena kegagalanku, hanya karena kebodohan egoku, hanya karena nafsu kesombonganku.

Tak terhitung berapa rintikan air mata dikeluarkannya dari lentik mata, hanya karena melihat ketololanku, hanya karena mendengar bentakkanku, hanya karena mendengar ke kurang ajaranku.

Tak terhitung berapa ribu ledakan amarahnya, menyaksikan kelakuanku, mengejekmu lewat kekurang ajaranku bermain dengan kesombongan, mempermainkan semua elemen pikiran dan hatimu.

Aku tahu, betapa lumat babat hatinya, hingga ia menuliskan ini untukku:

salahkah aku membisu

Ku haturkan kepada malam...

Dalam pekatnya jerami hati

Ingin ku berbisik..

bercerita padamu wahai malam...

Gemuruh asaku begitu memekik

Dalam kegelisahanku yang diam

Salahkah aku membisu..

Padamu malam yang pekat

Hatiku menjerit

Perih...menusuk jiwaku

Kelam menerobos sunyiku

Dalam diamku aku menjerit

Salahkah aku membisu

Hatiku semakin terusik

Dalam diamku membuat kelabumu

Menyalahkanku mengganggu ketenanganmu

Berhentilah menyalahkanku

Berkacalah pada dirimu

Pernahkah ku menyalahkanmu

Saat kau membangkitkan cemasku

Saat kelakuanmu di luar logikaku Dulu...

Pernahkah ku menyalahkanmu

Saat jiwamu terbelenggu tirai besi di sana

Pernahkah ku menyalahkanmu..

Salahkah aku membisu

Bila hadirmu tak pernah ada untukku

Salahkah aku membisu

Dalam diam jiwaku

Karena ku lelah mengemis waktumu..untukku..

Salahkah aku membisu

Karena perasaanku hanya milikku

Ku lelah mencari tempat berbagi untukku

Hingga hatiku hanya milikku

Tak perlu semua tahu

Hingga..salahkah aku membisu...

Apa yang akan kau lakukan jika seseorang menuliskan hatinya seperti ini??

Gilanya aku…

Aku  tak merasa tersentuh, tak merasa sadar akan segala kesalahan ini. bahkan menjadi orang terbodoh….mencoba bertanya kepadanya, mencoba meminta dukungan untuk kesalahan yang aku perbuat.

 

Mas ingin dukungan spt apa?mas ingin aku spt apa?mas ingn restu spti apa?mas pasti akn daptkan itu dariku…tapi cobalah sedikit peka. Apa hanya mas yang buth dukungan…apa mas mengerti apa yg kurasa…apa mas peduli jg dgn masalhku…apa mas jg ada saat ku rapuh…selama ini aku diam, mjga hatimu yang begitu halusnya..mencoba mengalah tuk slla emngerti masalahmu, hatimu, bahagiamu…

Tapi yakinlah mas..apapun yg membuatmu bagia, aku pasti mendukungmu.atanpa perlu mas minta

betapa gilanya aku, betapa hebatnya dirinya.

betapa anjingnya aku, betapa mulia hatinya

betapa kurang ajarnya aku, betapa lembut geriknya

betapa hinanya aku, betapa manisnya katanya

Ia selalu memaafkanku, ku selalu meminta maaf

ku selalu ulangi gilaku, Ia tak pernah berhenti menahan luka, menangis. Lalu memaafkanku

ku mencaci maki dirinya, Ia tak pernah berpikir meninggalkanku, berjuang untuk meredakanku, tak pernah pergi!tak jua pergi, dan selalu saja, ia redakan gemuruhku,

ku mencabik – cabik hatinya, ia begitu luar biasa, merekatkannya kembali, mem ‘betadine’ nya lagi, dan kembali berjuang agar aku berjalan menuju arah yang mulia

aku kira akan aku temukan yang kucari. aku kira akan aku lupakan kesalahan- kesalahan ini. aku kira ku kan menjadi diri ku lagi, diri yang telah lama hilang. tetapi tidak….ternyata tidak pada waktu itu.

Mungkin sudah muntap hatinya, sudah meledak otaknya, dan angkara bergebyar dalam amarahnya.

aku

Andai kuturuti semua perasaan hati…andai ku ikuti ego ini…telah lama kuhapus namamu dalam otakku…telah lama tak kan kupedulikan sapamu…tak akan pernah pedulikan dirimu…hatimu…hidupmu…kan kubekukan hatiku…agar tak dapat lagi merasakan hadirmu di hidupku..tak mau menjadikanmu begitu berarti dalam sejarah hidupku…Andai kuturuti luka itu…telah jauh kubawa diriku…pergi…menjauh darimu…tak kan ada lagi namamu dalam kamus hidupku….tidak hanya tercoret..tapi bahkan tak berbekas….

Ku coba untuk membisu…membisu dengan segala sakit yang kurasa…membisu dan meletakkan kelukaan itu dalam hatiku terdalam…membiarkannya terus membekas dalam jiwa…karena telah lelah untuk mengobatinya….karena luka itu begitu dalam….teramat dalam…sakit..teramat sakit….dan kupaksakan kesakitan itu untuk membeku…..agar tak akan pernah membebanimu…tak akan mau menyakitimu…tak akan mau memberatkan langkahmu….

Sungguh kusadari...hatiku begitu lemah…terlalu lemah…bahkan jiwa ini tidak mampu bernegosiasi dengan hatiku tuk mengerti segalanya…bahkan jiwaku pun ikut menjadi hampa…hei..ada apa denganku…terlalu lemahkah aku….

Aku masih terbelenggu…entah kenapa aku berpikir sejarah akan berulang…walau kucoba untuk mampu memaafkan…tapi entah kenapa kuyakin keinsafan hanya akan ada sementara didirimu…setelah itu kau akan kembali menjauh…menghilang….dan aku masih seperti yang dulu…terdiam dalam lukaku…

Tak kuasa aku menahan perdebatan panjang dalam hatiku….tak kuasa juga aku menahan perasaanku…tak kuasa juga aku menahan lukaku…tak kuasa juga aku menahan egoku…lemah..terlalu lemah…namun aku tak mampu bicara…aku tidak berani bicara…karena aku telah terbungkam sekian lama….dan terbiasa terbungkam dalam realita……aku terdiam….hingga kau tak akan pernah tahu….apa sesungguhnya yang terjadi padaku…..tak akan pernah tahu….karena hatiku tak mampu bicara lagi padamu…sejujurnya…tak akan pernah lagi mampu bersuara….

Namun…..logikaku akan terus ada untukmu……..akan terus mencoba untuk tersenyum padamu….akan terus berusaha untuk tidak membebanimu… Karena hidup menuntutku berbeda…Hidup menginginkan aku melupakan semuanya…Hidup menuntutku hanya untuk mampu merasakan…tidak untuk membalas apa yang pernah kurasakan…Hidup menuntutku belajar dari proses…Karena ku yakin… Hidup itu pasti akan membuat manusia terbentur…tidak hanya sekali...tapi berkali-kali…Namun dari situlah manusia akan paham sebuah perjuangan… sebuah kesakitan…sebuah penghargaan…dan sebuah kasih sayang..bahkan penghianatan……dan dari itulah ku mencoba tegak berdiri…walau sesungguhnya dengan banyak bantuan………..agar terus mampu menyangga tubuh ini….mengolah rasa sepi, bergolak batin, bahkan mencari jati diri, mencari arti, dan mencari nurani, mencari puisi, mencari hati, mencari cinta, dan mencari ketenangan.

 

Hingga pada akhirnya aku mengingat segala hal yang telah ia lakukan padaku….

Setiap demamku muncul, setiap ku terbaring tak berdaya, ialah yang menghampiriku, Ialah yang memberikan asupan hati, ialah yang menyuapi, Ialah yang mensabarkan wajah tulusnya,Ialah yang memberikan olesan minyak angin aromatheraphy-yang  panasnya bukan main- hingga aku tahu, aku harus sembuh lagi. DIsaat itulah aku baru ingat bahwa aku harus sembuh untuk perjuanganku, perjuangan yang belum aku raih untuk menebus semua kegagalan masa lampau. Hingga pada akhirnya aku menangis, menyadari kekacauanku.

Meskipun demikian,…

setelah aku mampu bangkit lagi, betapa gila ku lah yang hidup lagi.

ku mencampakkannya, meng tak acuhkannya, melupakan bahwa ialah yang merawatku hingga aku mampu berdiri lagi. Bukan hanya itu, aku lupa bahwa ialah yang mengobarkan apiku berulang kali, menambahkan “troli” ketika redup, memberikan sentuhan angin laut agar pasang gelombangku, untuk bergemuruh, mengombak, meraih mimpi- mimpiku. Aku melupakan sumberku. Karena aku gila.

 

Hingga suatu hari ia harus pergi, pergi jauh dalam waktu yang lama.

 

Di malam yg selarut ini..bisku melaju dengan kenangnya, Menembus kepekatan malam..bIntang bintang mengajakku berdamai degn belengguku, tuk menyapa dirimu..Aku pergi dengan asa yg tak mampu kulukiskan, dingin, sedingin malam ini…maaf utk kebisuanku..belengguku begitu mengungkungku. Ragaku tak mampu bersuara…hanya mampu bercuap…aku pergi dgn ragaku…jogja telah melambaikan tangannya…sudah saatnya aku pamit….

01:20:45

05/07/2010

 

Aku menuliskan kata – kata balasan, namun tak kukirimkan. Tak berani aku melawan egoku, yang telah membuat ia seperti itu. hanya aku tuliskan, dan kusimpan dalam save draf inbox hp ku.

Sampaikan terima kasihku kepada bintang - bintang, yang telah bisa merayu mu untk berdamai dgn belenggumu, merajukmu untuk menyapaku…Aku malu, dgn diriku, dgn kebisuan, dgn kedinginan, dan dengan asa. Sudah setiap saat aku membuat asa pada dirimu, dan tak pernah kunjung hilang. Ku tak mampu menjaga ragamu utk slalu bersuara, selalu hanya berucap. maafkan aku, karena membuat hidupmu, ber asa sbg wanita.Adeq... Yogya selalu menunggumu, begitu pula aku, merindu.

01:30:23

05/07/2010

Saat itulah, aku mulai menghabisi diriku sendiri. menghujat diriku, hatiku,batinku, dan membunuh setan – setan dalam diriku. Bahkan Malaikat pun tak mampu menolongku….Justru aku merasa bersalah kepada malaikat itu. Maaf kan aku malaikat….meskipun demikian, kau lah malaikat yang pernah berjasa dalam ceritaku, dalam hati ini, dalam perjalanan sejarahku, yang akan aku tuliskan dalam tinta emas hidupku, agar engkau tahu, bahwa perjalanan panjang hidupku, juga di lalui oleh keindahan mu. Meskipun aku tak mengerti mengapa engkau yang begitu sempurna tak mampu menolongku. Mungkin sudah terlalu panjang aku kehilangan rasa.

 

Sepi…sendiri, dan sunyi…

hanya ada berbaris tulisan pembuat sepi yang tersisa di Jogja ini

tulisan yang ia tujukan kepadaku…membekas, membuatku untuk selalu mencarinya.

ada yang hilang

Seorang Sensitif positivis. Entahlah…istilah itu memang janggal..gak ada dalam kamus sosial manapun..karena kedua kata itu memiliki makna yang berseberangan dan sulit untuk dipadukan. Bagaimanapun,nalar dari seorang positivis adalah rasionalitas, kurang sensitif, dan mengandaikan tahu segala hal tanpa harus berinteraksi langsung dengan obyeknya….

Tapi anehnya, itulah label yang cocok yang kuberikan untukmu, yang menggambarkan kepribadianmu…seorang yang sensitif...sangat sensitif…hingga perasaanmu benar-benar harus dijaga...karena sedikit terluka kan mengacaukan hatimu…kan meluapkan amarahmu…karena hatimu begitu halus…sangat halus…hingga ku melukis hatimu pun dengan sangat hati-hati…bahkan terlalu hati-hati…takut melukaimu…….

Namun..dirimu juga… mencerminkan seorang yang positivis..yang tidak sensitive terhadap nilai yang ada..Entah mengapa…hatimu begitu sensitive..tapi nalar berpikirmu begitu rasional…terlalu rasional…hingga kumenemukan kepribadian ganda di dirimu…kepribadian yang membuat ku di satu sisi berusaha menjaga hatimu..namun di sisi lain mencoba mencerna rasionalitasmu…sulit..sangat sulit…engkau terlalu berbeda…sangat berbeda…

Logika berpikirmu mengacaukan hatimu sendiri…bahkan menutup hatimu sendiri untuk mencerna sesuatu yang hanya bisa untuk dirasa…menyelesaikan sesuatu hanya dengan sebuah pembuktian…hanya dengan pikiran yang maha tahu…yakin akan semuanya dapat teratasi dengan pikiran realistis dan antusiasmu…dengan sikapmu yang terlalu realistis, ternyata sesungguhnya dirimu telah menutup satu sisi..sisi yang berharga untuk diabaikan….yakni sisi nilai dan perasaan…

Sungguh ku tak mengerti…hatimu begitu halus..sangat halus…namun…hatimu ternyata tak sanggup menjangkau sesuatu di luar hatimu…yang juga sama halusnya..hanya mampu merasakan apa yang kamu rasakan..dan tidak lagi mampu merasakan..apa yang orang lain rasakan…

Ada yang hilang…….dari dirimu…..

Banyak yang hilang………

Namun ku tak kuasa mengingatkanmu…karena hatimu begitu halus…karena aku takut melukaimu…sangat takut engkau terluka..tapi sadarkah dirimu…….kamu kehilangan roh mu..kamu kehilangan sesuatu yang bernilai dalam dirimu……kamu kini berbeda….Sadarkah dirimu…engkau telah berbeda…namun aku hanya mampu terdiam melihat semuanya…tak mampu untuk berkata apa-apa…karena tak kuasa membuatmu terluka….Namun ku tahu..masih tertinggal bayanganmu yang dulu…seseorang yang punya ruh seutuhnya…dan kumenunggu…hingga ruh itu kembali padamu…agar dirimu dapat lebih bijak memaknai hidup ini….dengan hatimu..hatimu yang halus itu…

Sejenak aku terdiam, bahkan mulai mempertanyakan….apakah bekas ke gagalan yang lampau menghilangkan hatiku? dan meninggalkan aku seorang diri tanpa hati???sendiri…..

tak kutemukan dimana saja, dalam kesendirian!!!ku putuskan untuk berlari.

aku berlari……berlari…dan terus berlari……mengejar semua kesombongan yangg aku miliki. Keangkuhan yang aku kagumi. mengejar semua kejayaan yang telah ada dalam diri ini.

 

aku telah mati, telah mati , terkunci.

DUA BULAN aku mencari ? Lebih….lebih dari dua bulan, bahkan tiga, empat   belum aku temukan. Aku tak menemukannya lagi….Semakin aku mencari, semakin jauh aku tersesat. Semakin cepat aku mengejar, semakin tak terkejar.  ini bukan masalah wanita, cinta, maupun seseorang, Bukan!!! tetapi ini tentang sisi sensitive positive ku.

 

Aku mencari dan masih mencari…laju ini tak semakin lemah, namun tak kunjung aku temukan. hingga akhirnya aku membaca sesuatu dari janji masa laluku. Mungkin inilah yang tak akan membuatku menemukan hatiku kembali

kau tak akan pernah mengerti arti cinta yang tulus....kau tak akan pernah menemukannya lagi...tak akan ada lagi!!!

Sungguh…mungkin inilah yang membuat hatiku tak ada lagi. terbuang oleh sebuah sumpah serapah sakitnya hati orang lain.

 

Ku tahu, bahwa kesalahan masa lalu itu akan menjadi siksaanku di masa depan. Namun aku mengerti, maafku tak akan berarti untuk sebuah kesalahanku, namun sangat berarti untuk Diriku. Ku beribu – ribu kali meminta maaf agar sumpah srapah ini menghilang dari hati pemilik sumpah, namun tak kunjung sirna.

 

Aku mulai menyadari akan ini, dan kuterima dalam doaku…agar aku terampuni.

---------------------------***-----------------------------

 

Gemuruh merapi membuat ketakutan yang luar biasa bagi kami, penduduk Yogyakarta. Gemuruh yang bisa terdengar sampai puluhan kilometer, kerajaan Gadjah mada pun gemetar. Hiruk pikuk orang yang panik akibat turunnya pasir dari langit, membuat Yogyakarta ricuh. Pengungsian di bangun, dan berdirilah barak – barak sementara, untuk menekan kehiruk pikukan itu. Dalam siang, semuanya nampak seperti bulu – bulu yang ditaburkan, tepat sesuai yang tertulis di kitap sejarah, yang benar – benar mulai di acuhkan oleh umatnya. Malam menjadikan ketakutan , tak mampu tertidru dengan nyaman, memikirkan apakah benar terjadi ledakan yang akan meluluhkan kulit ku, kulit kami. Hanya bisa berjaga, dan tak mampu pergi melariakn diri, lebih jauh! ketakutan menghantui!!!.

 

Di tengah – tengah itu, aku sekarat, terkapar. Menjadi seorang relawan sok hero yang pura – puranya memenuhi dirinya dengan kesombongan, menyelamatkan nyawa. Saat terkapar itu, hanya ada satu ingatan siapa yang bisa merawatku, dan menyembuhkanku. Tapi, sedikit tanya dalam hatiku, malu aku, memintanya. hina sekali diriku memohonkan untuk mencarinya.

dan ku tak mengerti,..logika ku tak bisa menjawab ini. Ia datang, bagaikan merpati  yang hinggap kemana dia suka, dan melakukan yang ia inginkan. Putih bulunya melambangkan sebuah kasih tulusnya. Aku tak mengerti, kenapa ia kembali.

Tak ada dendam dalam rautnya, lagi – lagi hanya ada kesabaran wajah tulusnya. Merawat diriku, membawakan aku asupan hati (lagi), menyuapiku dengan bubur, dan tersenyum. Ya…dia tersenyum. Tak ada rasa benci, sakit hati.

Sungguh!!!luar biasa……

 

Kali ini….aku benar – benar menangis., menangis dan tersadar. menyadari akan segala kesalahanku, segala kebodohanku, segala omong kosongku, segala janji gilaku, segala kepalsuanku, segala hinaanku. Aku menangis sejadinya, dalam sakitku, dalam rasa hinaku. Tak perlu kau tanyakan apa yang ia lakukan. Karena dia tak berubah, tersenyum tulus untuk ku.

Kali ini…benar – benar, hatiku telah kembali. Ya…telah kembali di bawakan nya bersama semangkok bubur SUN rasa beras ketan buatan Syamsul. Tak akan kuhilangkan lagi hati ini, tak akan ku tinggalkan sendiri disini. Sensitive ku ada lagi, muncul lagi.

cucuku, ingatlah…ini bukan sekedar masalah cinta, wanita, dan hasrat, ini lebih jauh dari segalanya…

 

Semenjak itu, aku berjanji pada diri ini, untuk mengubah apapun yang ada di sekitar kita, mendahulukan hal – hal yang lebih penting dan membuat perubahan untuk diri ini dan sekitar kita. Aku ingatkan lagi, janjiku tak ku landasi oleh cinta lawan jenis, karena sebuah rasa hati yang harus kita tanamkan kepada setiap orang, untuk peduli dan memaafkan setiap kesalahan. Secara tulus!!!

_________________________****____________________________

Sebentar lagi, kita akan berpisah…bukan jarak yang memisahkan kita, namun khitbah lah yang menjadikannya halal untuk lelaki lain. lagi – lagi ini bukan sekedar masalah cinta, namun lebih dari menghubungkan suatu keluarga menjadi satu, kehormatan, kemapanan, kesiapan, dan kebatinan.

 

Aku tak mampu mengusahakan lebih selain menyakinkan kepadanya, “pilihlah yang sesuai dengan hatimu, serta selaras dengan kenyataan yang ada, yakni kesiapan mencukupi keluarga, dan menghidup – hidupkan surgamu”

 

jawabannya

“aku bahagia pernah mengenal sosok seorang andy. yang buat aku lebih dewasa dalam berfikir, lebih mengerti arti hidup. aku bersyukur telah ditemukan dengan dirimu. skrang dihatiku hanya ada satu cinta yang ingin aku perkuat, cinta Allah. Selebihnya, cinta yang lain, ku letakkan digenggamanNya, agar ketika diambil, tidak melukai hatiku”

akan aku jadikan penyemangat ketika aku lemah bergilya dan berjuang untuk negeri ini.

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua ..
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku
Di dalam pancasilamu jiwa seluruh nusaku
Ku junjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia …….

Untuk Adeku….yang aku sayang

Ku selesaikan tulisan ini, awal hari, pagi

04.00 di akhir tahun dalam “satu tahun lalu”

Desaku, dalam keindahannya…

Klampok, Brosot, Galur, Kulon Progo

                                                                          Yogyakarta, 31 Desember 2010

 

 

                                                                                 Andy Eko Wibowo

--------------------------------****--------------------------------------

7 comments:

Anonymous said...

aku menangis membaca blog mu untukku...maz....
aku tersentuh...sangat tersentuh.....
hingga ragaku bergetar begitu hebat...hatiku memekik begitu kuat....
perjalanan kita sungguh berharga....
kebersamaan kita begitu bermakna....
untukmu...untukku....untuk semua....
terimakasih untuk tulisan yang luar biasa....

ITHENG said...

la la la...aku senang sekali .....dora emon...lekas melow untuk yang diatas...wkwkwk...peace!!!!

ferasavanila said...

huwaaaaaaa

aku jadi inget masku yang sekarang udah nikah :(

ITHENG said...

kenapa de masmu yang udah nikah??ada apa??hehehe...

Anonymous said...

aq mw komen apa ya....semoga semua mendapat yang terbaik..

Itheng cemani said...

amin......

anisa anggraeni said...

like this blog..
:)