Total Pengunjung Blog

Followers

Popular Posts

Saturday, January 15, 2011

Hampir lulus aku dari gadjah mada bersama  ribuan mahasiswa lain.

 

Setiap satu tahun, Gadjah Mada mem wisudakan tiga angkatan dimana setiap angkatan lebih dari seribu( mungkin!, data pastinya ku tak tahu). Dari setiap wisudawan – wisudawati itu aku yakin mayoritas memiliki pemikiran “mencari pekerjaan, dapat uang banyak dan mapan, lalu nikah”. Lebih – lebih yang telah memiliki pasangan di usia nya.

 

Dari sekian mayoritas wisudawan – wisudawati tersebut ada juga yang sudah sampai memikirkan atau memiliki target, di usia sekian telah bisa membalas budi kebaikan orang tua, membeli rumah, mobil, motor, dan hidup tentram berkeluarga serta memutarkan hartanya agar berbuah harta lagi.

Aku yakin sekali, tentu sebagai manusia beragama, maka mereka juga berpikiran,  dari sekian harta tersebut akan di bagikan sebagai sodaqoh, zakat, dan menunaikan kewajiban beragamanya.

aku juga sangat – sangat yakin, jika ada wisuda wan maupun wati yang berencana untuk memutarkan hartanya maka dia akan membuat sebuah bisnis yang profesional, yang menghasilkan profit tinggi (jika kalian sama seperti aku tidak bisa paham bahasa inggris, aku jelaskan arti profit, yakni keuntungan setinggi – tingginya).

 

Ada sebuah ironisme paham dalam diriku, sebut saja sebuah pergolakan (semoga saja menambah kebaikan, dan jangan menganggap diriku ini manusia sok – sok an, karena sudah banyak orang yang menganggapku manusia gila)-----

sebelumnya minta maaf, apabila hal – hal yang diungkapkan ini ternyata sepenuhnya tidak benar, karena ini timbul dari pikiran penulis dan penulis pun belum mengalaminya. Penulis hanya melihat realita yang sedang berjalan dikehidupan penulis.

kita tilik kembali, kita analisis pola pikir kebanyakan dari wisudawan- wisudawati tadi.

1. Sebagian besar Mereka  memikirkan kehidupan masa depannya yang harus di buat secerah mungkin. Hal ini sudah nampak dari masa – masa mahasiswa berorganisasi, dimana relasi – relasi yang ditemuinya dalam organisasi hanyalah dimanfaatkan untuk mencari kerja setelah lulus. Sering banget kan ada temen – temen kita yang ikut banyak – banyak kegiatan organisasi dengan alasan tersebut.

2.  masa depan sebagian dari mereka hanyalah seperti yang dikatakan Pramodya ananta tour,

“Dahulu, nenek moyangmu selalu mengajarkan, tidak ada yang lebih sederhana daripada hidup: lahir, makan-minum, tumbuh, beranak-pinak dan berbuat kebajikan. (Bunda, 65)”

. Sebuah siklus yang selalu berjalan, Sekolah tinggi, mencari uang banyak, beranak – pinak, menabung dgn alasan tabungan untuk sekolah anak pinaknya, lalu kembali siklus ke awal, sekolah lagi. Di sini ada dua hal yang ironis, menumpuk harta dan mereka tidak tahu harus membagikan kemana hartanya. Sangat – sangat terlihat bahwa kekayaannya untuk sarana pembalas dendaman keprihatinan masa kuliahnya. dan hal lainnya adalah kehidupannya hanya mengikuti arus /siklus yang sudah barang tentu kebanyakan orang akan mengalaminya.

3. Hilangnya idealisme – idealisme masa kuliah mereka bersamaan  munculnya paham – paham yang disesuaiakn dengan sistem dimana mereka bekerja. Hanya bebeerapa orang saja yang masih memegang idealisme masa mudanya dan sekuat tenaga memperjuangkannya agar hal – hal idealnya ini menjadi kenyataan. namun, sebagian besar???Hilang!!!ada dua kemungkinan, karena mereka dilupakan oleh munculnya kesuksesan yang berlimpah, atau dilupakan oleh realita perjuangan kehidupan yang sangat susah dihadapi. Di sini mereka kehilangan daya kreasi/daya cipta untuk menciptakan idealisme – idealismenya.

4. Beberapa tahun kemudian, mereka mempunyai energi potensial yang sangat tinggi sekali untuk merubah dunia, karena harta maupun pengaruh besar (baca kekuasaan) yang ada di dirinya. Namun, potensial tersebut tidak bisa di ubah menjadi energi kinetik, yang memunculkan sebuah pergerakkan. Karena apa? karena daya kreasinya kini telah hilang, atau telah berubah menjadi daya kreasi yang semata – mata uang, pangkat, dan kesuksesan.

 

Hanya beberapa yang masih tersisa dari sekian ribu wisudawan –wisudawati. Tapi  sebuah lidi sangat mudah sekali patah daripada seikat, maka sebuah itupun tak mampu mengubah negeri ini, karena mereka juga sudah terpecah daya kreasinya , yakni memikirkan permasalahan yang penting tapi tidak merubah sesuatu hal secara signifikan (masalah ini diatasi karena jika tidak diatasi akan menghancurkan suatu hal, bukan masalah yang jika diatasi akan menyelesaikan suatu hal [paham maksudnya?]).

 

Sekarang, aku ingin menyampaikan sedikit kegilaanku yang tak mungkin aku sampaikan lewat lesan (takut sekali dianggap gila lagi).

Sesungguhnya kita ini memiliki potensi yang sangat – sangat besar sekali untuk merubah negeri ini, atau paling tidak merubah suatu hal yang awalnya buruk menjadi baik.

Seandainya saja, dalam setiap lulusan ini, pikiran mereka tidak “mencari pekerjaan” namun “menciptakan pekerjaan”. Apa yang bisa diperbuat?. Seandainya saja, dalam setiap lulusan ini, memikirkan bagaimana agar pola pikir bangsa  ini dapat berubah agar “tidak meminta dan mengandalkan pemerintah” namun menjadi “berusaha untuk mendapatkan yang ia minta dan mengandalkan diri sendiri”, apa yang akan terjadi?. Seandainya saja, dalam setiap lulusan ini, tidak hanya memikirkan kehidupannya sendiri, namun juga memikirkan kehidupan – kehidupan “tetangganya”, apa yang akan terjadi?

Dari sekian fakultas, dari beberapa fakultas UNIVERSITAS GADJAH MADA, yang tentunya memiliki seluruh keahlian , pastinya dapat dijadikan menjadi satu, tentunya tak khayal an lagi jika menciptakan pekerjaan. Tentunya tak khayalan lagi membuat suatu rencana untuk bagaimana mengubah pola pikir bangsa. Atau minimal dari sekian itu tidak hanya memikirkan kehidupan nya sendiri, namun juga kehidupan tetangganya.

Kenapa aku berpikir terlalu muluk?

karena ada sebuah pemikiran dariku tentang negeri ini. (jika kalian merasa aku sok suci membicarakan negeri ini, jika kalian anggap aku muluk – muluk membicarakan negeri ini, anggap saja aku ini orang gila. Karena kalian sadar? kita kuliah di universitas rangking hebat di dunia, dan itu artinya kita berhak dan memang kewajiban kita untuk berbicara tentang negeri ini).

Mulai dari obat mahal!!

siapa yang membikin obat mahal?

apakah Industri Obat? Salahkan marketing yang terlalu gembor – gembor? salahkan obat generik yang kualitasnya tidak bisa sebagus obat komersial? salahkan bahan baku obat yang tidak bisa kita buat sendiri dan harus impor? Salahkan meminta licensi luar negeri?

JANGAN SALAHKAN KALIMAT DIATAS..

YANG bersalah adalah KITA. KITA MAHASISWA YANG MAU – MAUNYA DI GAJI 3-5 Juta di awal untuk bekerja di Industri Industri Obat itu (aku besok pasti juga mau!!!!hehehe). Padahal temen – temenku!!! dengan sarjana Farmasi, secara undang – undang kita sudah punya hak untuk membikin sebuah pabrik, sebuah industri obat, bahan baku, atau sejenisnya. Dan aku yakin, Fakultas Farmasi kita menjuruskan kita menjadi Bahan Alam, Industri, dan klinik komunitas bukan untuk bekerja di Industri, tetapi agar kita berdaya cipta.

 

Lanjut dari kekayaan bumi kita yang dikeruk oleh Pihak Asing/aseng.

Siapa yang akan disalahkan?

pemerintah?Menteri SDA?(ada g?),

JANGAN SALAHKAN DIA…KALIAN BERDEMO MEMPERMALUKAN DIRI KALIAN SENDIRI.

KITA YANG SALAH….

Kenapa kita tidak mendahului mengajukan sebuah sistem untuk mengelola sumber daya tersebut? Malah sekarang, setelah lulus, aku yakin, beberapa dari teman – teman juga akan mendaftar di sana, dan mengeruk “banyak” keuntungan disana (padahal yang diberikan (gaji) baru sedikit tapi kita sudah merasa banyak).

 

 

Doaku,,,

semoga saja dari sedikit gambaran tersebut, akan tumbuh jiwa – jiwa nasionalisme dalam diri wisudawan – wisudawati dan meninjau ulang konsep hidupnya, meninjau ulang pilihan hidupnya, bahkan yang aku harapkan adalah merombak seluruh rencana kehidupannya. Tentunya melakukan hal – hal kecil di sekitar kita lebih bermakna daripada merubah hal – hal besar. Karena dari yang kecillah, kita akan siap untuk merubah hal yang besar.

 

 

Bagaimana cara memulainya?

Aku uakin semua orang bingung dengan pertanyaan itu, untuk mempengaruhi orang ikut dalam pemikiran kita itu adalah hal paling sulit, apalagi berbicara lesan. Bahkan aku dikatakan gila oleh orang orang komunitasku. Hanya ada satu jalan yang bisa membuat perubahan, yakni melakukan perubahan agar orang – orang disekitar (yang menganggap gila tadi) sadar, ternyata si gila itu waras, dan mari kita bantu dia.

Tapi, perjuangan untuk ini tentunya sangat susah, karena aku yang gila ne mulai waras, terawaraskan dengan kesibukan kesibukan ku yang hanya memberikan perubahan dalam diriku, dan tentunya tidak signifikan. Karena warasku, aku sedikit menyerah, mengecewakan beberapa pihak pendukung kegilaanku, dan beberapa teman baru yang simpati di inbok FBku. Tapi aku harus bicara apa? semakin keras aku bicara, semakin jauh komunitasku untuk menjauhi aku, karena aku semakin gila. takut mungkin!jika aku mengamuk. Namun , jika aku diam, hatikulah yang mengamuk, karena merasakan beban, beban, dan beban berat. Otakku penat di bikin hati ini.

Saat ne , untuk bertahan! obatku hanyalah tulisan. Silahkan didengarkan sebagai manifesti lesanku atau pun kalian diam jika masih saja beranggapan aku gila.

 

aku sarankan, mulailah berjuang melalui tulisan, meskipun pergerakkannya lamban. Pergerakkan yang nyata, akan mengkatalis semuanya.

 

Mahasiswa, butuh pergerakkan….seperti tempo lalu, dimana pergerakkan – pergerakkan melahirkan suatu sumpah pemuda. Dimana pergerakkan – pergerakkan melahirkan sumpah palapa (individu), dimana pergerakkan – pergerakkan membuat semua terbesarkan, terdewasakan, dan kemajuan.

7 comments:

Anonymous said...

wah langka sekali anak muda seperti anda
bagai menemukan jarum dalam tumpukan jerami
lanjutkan perjuanganmu nak

anda said...

profesimu syarat akan pengabdian ke masyarakat..tp ingat setelah melihat realita yg ada km harus melihat 'realita dirimu'..apa yg bnr2 bs km lakukan saat ini..utk profesimu..mulai dr hal yg kecil..jika yg kecil pun bisa km lakukan kepuasan akan datang pdmu shg km bs menaklukan yg besar..
Mari sama2 berjuang utk org lain..jgn berhenti..pertahankan keidealisanmu saat ini..

puchsukahujan said...

hmmm.....

Itheng cemani said...

anonim--hahaa, soalnya masih kesurupan, jadinya jadi langka
anda--iyo bos...ingatkan aku tentang keidealismanku ini ketika aku lupa atau memudar dalam diriku
mbak puji--hmm..juga...wkwkk

yulinurullaili said...

kalo gila macam kau ini = 'gila yang diperlukan'
& justru dicari

saya pun melihat sekitar, realita yang ada. Namun baru bisa berguman dan berkomentar. belum ada yang saya 'lakukan' sesuai idealisme-idealisme yang sejak dulu kubangun sendiri.

Bantu kami 'calon wisudawan' untuk 'gila' minimal sepertimu lah :)

Itheng cemani said...

mbak yuli--hahaha...makasih, dan doakan saja mbak, gilaku ini terus berlanjut...
ehm...mungkin kita harus mulai sedikit - sedikit memulai. Alhamdulilah sekarang masih bisa berguman dan berkomentar, berarti setelah ini harus mencoba membuat rencana - rencana yang matang dari guman dan komentar mbak agar terselesaikan.
hal ini sama saja dengan infaq, menabung, wakaf, dan haji. jika tidak sedikit sedikit dimulai dari sekarang, maka ketika kita udah punya uang banyak ya, berat sekali menyesihkannya (iki dudu aku lho sing omong, jare temenku yang ngajari aku trik jitu belajar jadi wong sugih, hehehe)

koncomu said...

kemiskinan yang terbesar adalah kemiskinan tekad....semoga saudara2 qt apalagi yg masih muda2 itu tdk terkena kemiskinan yg satu itu...(qt juga kali ya...^^)