Total Pengunjung Blog

Arsip Blog

Pengikut

Popular Posts

Sabtu, 26 September 2009

Saat ini, waktu ini, aku terkulai lemas terkoyak – koyak, oleh jiwaku sendiri. Mencari sisi getar permiase sebagai signal keutamaan bulan ini. Tapi kenapa ? kenapa dalam diri ini tidak kutemukan getaran – getaran yang biasanya terjadi. Ingin ku remuk jiwa ini. Tiada getar dalam diri ini. Mungkinkah ? Mungkinkah signal itu telah hilang dalam pancaran kharisma batiniyahku ? mungkinkah terlalu banyak dosa yang aku buat sehingga menjadi envelope permiase tersebut? Mungkinkah terlalu banyak kebrengsekan dan sifat bajinganku sehingga aura itu enggan menyalurkannya ke dalam raga ini. Atau mungkin saja semuanya telah terselimuti cholesterol dosa yang membuat peredaran darah signal itu terhambat. Atau justru signal itu menjadi inhibitor dosa – dosaku untuk berkembang. Tapi Mungkinkah? Sungguh, wahai getar – getar ! aku menantimu, bukan menanti jalan kemunafikan di jalan terlaknat neraka, melainkan menunggu agar kau mampu mendegradasikan dosa – dosaku ini. Duhai hatiku, bergetarlah dalam jiwa ini, dalam jiwa ini saja, bukan dalam

Lebanon

, palestina, irak,

iran

, amerika.

Duhai hatiku ! bergetarlah !!! aku ingin sekali saat ini, bulan ini,

massa

ini merasakan keharuman Secerca dari surga. Ya ALLAH, Yang memberikan nikmat dan tidak bisa didustakan, dapatkah kumerasakan keharuman ciptaanMu. Menjadikan nada – nada nafas penenteram hati. Tunjuk pada sebuah keajaiban sepanjang

massa

. Makan bab sebuah kata mukjizat. Ya ALLAH, dapatkah keharuman itu menenteramkan hatiku. Menyelimuti dan menidurkan semua kebatilan. Merasakan keindahan dari sebuah keabadian. Merasakan nada deru kemurnian, menjadikan kehangatan untuk dekat. YA ALLAH, dapatkah keharuman ini menggetarkan hatiku. Hanya satu maksud, mencari cintaMu. Dalam satu waktu, satu tempo, satu massa

hingga aku telah tertelan. Ya ALLAH, dapatkah keharuman mu kurasakan hingga mengantarkanku kepintu rahmatMu. Memberikan radiasi neraka untuk tidak kurasakan. Merasakan kenikmatan mukjizat.

Waktuku, milik penciptamu. Jiwaku ? mutlak selayaknya waktu, walaupun bahtera hidup belum mengalir menurut kepasrahan, namun tetap saja bahtera itu ingin melabuhkan ke mahligai cinta. Berikanlah keharuman untuk si Brengsek ini agar beriman. Berikan karsa sehingga aku tahu, berikan hamba mata agar mampu melihat, melihat sebuah realita kehidupan dunia.



0 komentar: